— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026. Hal ini menyusul penutupan indeks yang melemah 0,69 persen ke level 6.365,374 pada awal pekan ini.

Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang support 6.344 dan resistance 6.385. Menurutnya, pelemahan indeks didorong oleh sikap investor yang cenderung wait and see. Pelaku pasar menanti rilis data inflasi konsumen (CPI) dan inflasi produsen (PPI) Amerika Serikat, serta rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan pada 12 Agustus.

“Untuk Selasa, IHSG masih rawan terkoreksi dalam jangka pendek dengan support 6344 dan resist 6385. Kami perkirakan, investor akan wait and see dalam pekan ini dengan adanya rilis data CPI dan PPI AS, kemudian MSCI,” ujar Herditya.

Herditya merekomendasikan beberapa saham yang patut dicermati investor ritel pada perdagangan Selasa. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan target harga Rp 1.100-Rp 1.195, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) dengan proyeksi kenaikan harga Rp 700-Rp 730, dan saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) pada rentang harga Rp 2.290-Rp 2.380.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai sentimen global masih kondusif bagi pasar saham. Hal ini terutama setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dari ekspektasi.

“Data nonfarm payroll yang lebih rendah dari perkiraan meningkatkan ekspektasi bahwa kebijakan The Fed akan lebih akomodatif, sehingga ini bisa menjaga risk appetite investor di pasar global, termasuk di kawasan Asia,” kata Nafan. Ia menambahkan, indeks utama Wall Street seperti S&P 500 dan Nasdaq yang mencatatkan penguatan dan rekor baru turut memberikan sentimen positif bagi pasar saham.

Pelaku pasar dalam negeri juga menaruh perhatian pada sejumlah agenda penting, termasuk menjelang pengumuman MSCI August Index Review pada 12 Agustus 2026. Hasil evaluasi ini dinilai berpotensi mempengaruhi arus dana asing di pasar saham Indonesia. Nafan memperkirakan, peluang penambahan saham Indonesia dalam indeks MSCI relatif terbatas karena masih diberlakukannya kebijakan freeze. Oleh karena itu, fokus pelaku pasar lebih tertuju pada potensi perubahan komposisi indeks yang sudah ada.

“Jika tidak ada kejutan negatif, hasil MSCI ini justru bisa menjadi katalis relief rally karena sebagian kekhawatiran pasar sebenarnya sudah tercermin di harga,” pungkas dia. Namun, jika hasil evaluasi MSCI lebih buruk dari ekspektasi, kondisi tersebut dapat memicu aksi jual investor asing dan menekan IHSG dalam jangka pendek.

Untuk perdagangan Selasa (11/8/2026), Nafan memproyeksikan IHSG akan bergerak cenderung sideways dengan kisaran support pada level 6.292 hingga 6.242, sedangkan level resistance berada pada area 6.406 hingga 6.454.