— Jakarta – International Islamic Forum for Science, Technology, and Human Resources Development (IIFTIHAR) menggelar Leaders Forum yang berkolaborasi dengan media ini. Acara tersebut diselenggarakan untuk memperingati 30 tahun IIFTIHAR berdiri sekaligus mengenang 90 tahun kelahiran Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie. Forum ini secara khusus membedah visi besar Habibie mengenai penguasaan teknologi di dunia Islam.

Sekretaris Jenderal Pertama IIFTIHAR, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, membuka forum bertajuk ‘Connecting SDG Innovations for OIC Countries’ dengan memaparkan sejarah pembentukan organisasi IIFTIHAR. Organisasi ini dibentuk usai konvensi internasional di Jeddah pada tahun 1996.

Prof. Jimly mengisahkan peran sentral B.J. Habibie dalam meyakinkan Raja Fahd untuk menandatangani deklarasi forum tersebut. “Pak Habibie langsung menjelaskan ke sebelahnya, the King, King Fahd. Dan kemudian King Fahd menandatangani. Jadi ini tidak pernah terjadi dalam sejarah, penandatanganan dilakukan di depan Ka’bah,” ungkap Prof. Jimly dalam acara yang digelar di Habibie & Ainun Library, Jakarta, Jumat (24/7).

Lebih lanjut, Prof. Jimly mengingatkan kembali gagasan Habibie tentang pentingnya memadukan antara iman dan takwa (imtaq) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Keseimbangan ini dinilai krusial mengingat proyeksi Islam menjadi agama dengan populasi terbesar di dunia pada tahun 2070. Kuantitas tersebut diharapkan dibarengi dengan kualitas.

Sejalan dengan visi keseimbangan tersebut, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menegaskan bahwa imtaq dan iptek merupakan pondasi utama bagi pembangunan karakter bangsa sekaligus instrumen kesejahteraan. Ia menyebut B.J. Habibie bukan sekadar teknokrat, melainkan sosok negarawan, bapak demokrasi, dan pemimpin berjiwa besar yang membuktikan bahwa nilai Islam, inovasi, dan kewirausahaan dapat saling melengkapi.

Sekretaris Jenderal IIFTIHAR, Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, memaparkan bahwa teknologi harus ditempatkan sebagai alat untuk menciptakan kemajuan dan dampak nyata bagi masyarakat. Untuk itu, IIFTIHAR kini bertransformasi menjadi Global Innovation Hub (GIH). Wadah ini bertujuan mendorong kolaborasi berkelanjutan antara inovator, akademisi, dan pelaku industri di negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Ketua Umum ICMI Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., sepakat dengan Ilham Habibie mengenai pengembangan ekosistem inovasi. Ia menekankan bahwa tidak akan pernah ada inovasi tanpa didahului oleh riset. Prof. Arif memuji B.J. Habibie sebagai sosok teladan yang meninggalkan jejak warisan peradaban. “Ada yang bilang, usia seseorang dilihat dari biologisnya, sedangkan umur dilihat dari legacynya. Pak Habibie adalah contoh sosok yang umurnya jauh lebih panjang dari usianya karena legacynya terus hidup hingga masa depan,” tegas Prof. Arif.

Prof. Arif juga menyoroti kecenderungan pihak swasta yang kini lebih senang menjadi konsumen teknologi praktis dari luar negeri. Oleh sebab itu, ia mendorong agar sektor swasta disadarkan untuk ikut berkontribusi serta menjadi motor penggerak dalam pendanaan riset dan pengembangan.

Direktur IsDB RH Indonesia, Amer Bukvic, turut menyoroti visi Habibie tentang pentingnya menyeimbangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kerja keras dengan nilai, keimanan, serta tanggung jawab dari kacamata global. Ia menilai dunia saat ini tidak kekurangan ide, namun tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengubah ide menjadi solusi yang didanai, diimplementasikan, dan ditingkatkan skalanya untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.

Menurut Amer, keuangan syariah (Islamic finance) memiliki peran krusial sebagai sistem yang menghubungkan keuangan langsung ke ekonomi riil, seperti pembangunan jalan, rumah sakit, dan universitas. Ia menyambut baik kehadiran Global Innovation Hub dari IIFTIHAR agar solusi di satu negara dapat dikoneksikan dengan mitra pembiayaan dan direplikasi ke ranah global. “Saya ingin meneruskan warisan Presiden Habibie dengan memastikan bahwa pengetahuan menjadi inovasi, inovasi menjadi usaha, usaha menjadi pembangunan, dan pembangunan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat kita,” ucap Amer.

Mengakhiri pidatonya, Amer memberikan penghormatan dengan mengutip langsung pepatah B.J. Habibie. “Saya berbicara dalam bahasa Inggris, tapi ada satu kutipan berbahasa Indonesia dari Bapak B.J. Habibie dan itu cocok dengan semangat kerjasama ini, investasi bersama, dan membangun masa depan yang lebih baik bersama, yaitu masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu Anda adalah milik Anda, tetapi masa depan adalah milik kita,” tutup Amer.