Jurnal Indonesia — PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) memperkuat jajaran pengawas perusahaan dengan mengangkat dua komisaris baru, yakni Tedjodiningrat Broto Asmoro dan Bernardus Djonoputro. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perseroan mempercepat transformasi bisnis dan mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Pengangkatan keduanya diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar pada 30 Juni 2026.
Komisaris Utama IKAI William Daniel mengatakan, kehadiran Tedjodiningrat dan Bernardus akan memperkuat implementasi strategi jangka panjang perseroan. IKAI telah menetapkan tiga tahapan transformasi, yakni Fase Rekondisi pada 2026, Fase Optimalisasi pada 2027, dan Fase Ekspansi mulai 2028.
Menurut William, Bernardus memiliki pengalaman lebih dari 35 tahun di bidang perencanaan kota, pengembangan wilayah, dan pembiayaan infrastruktur. Saat ini ia menjabat CEO Otoritas Pengelola Rebana Metropolitan serta pernah menduduki posisi senior di Deloitte, EY, dan PwC.
Direktur Utama IKAI Desra Firza Ghazfan mengatakan, perseroan mulai menunjukkan hasil positif setelah menjalankan fase pemulihan sejak semester II-2025. Fokus manajemen diarahkan pada perbaikan struktur keuangan, penguatan tata kelola, serta peningkatan efisiensi operasional.
Hasilnya, IKAI membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 148,9 miliar pada 2025. EBITDA juga berbalik dari negatif menjadi positif Rp 5,2 miliar pada kuartal IV-2025, sementara pendapatan kuartal terakhir tumbuh 71% dibandingkan periode sebelumnya.
Kinerja IKAI Melesat
Kinerja tersebut ditopang oleh dua pilar bisnis utama, yakni manufaktur dan hospitality. Produksi keramik premium merek Essenza mencapai lebih dari 1,1 juta meter persegi sepanjang 2025, sedangkan tingkat hunian rata-rata hotel yang dikelola perseroan mencapai 72,5%.
Selain itu, Hotel Property Indonesia (HPI) membukukan EBITDA positif Rp 16 miliar dan SMS sebesar Rp 9,4 miliar. Di sektor manufaktur, perseroan juga berhasil memperbaiki fasilitas produksi, merestrukturisasi proses bisnis, serta menyelesaikan sisa kewajiban kepada Bank Mandiri.
Memasuki 2026, IKAI akan memperkuat sumber pendapatan baru melalui bisnis Integrated Land Development, yang mencakup pengembangan kawasan, pengelolaan hak atas tanah, utilitas, dan energi.
“Dengan fondasi yang semakin kuat, kami optimistis dapat menciptakan pertumbuhan yang nyata dan berkelanjutan melalui eksekusi yang disiplin, keputusan berbasis data, serta pengelolaan risiko yang terukur,” ujar Desra.
Ikuti Jurnal Indonesia
