— Harga batu bara mengalami penurunan pada perdagangan Selasa, 8 September 2026. Pelemahan ini dipicu oleh sinyal perlambatan permintaan dari China, salah satu importir batu bara terbesar di dunia.

Data perdagangan menunjukkan bahwa harga batu bara Newcastle untuk kontrak September 2026 turun tipis US$ 0,15 menjadi US$ 147,6 per ton. Kontrak Oktober 2026 melemah US$ 0,85 ke level US$ 151,15 per ton. Sementara itu, kontrak November 2026 sedikit menguat US$ 0,45 ke angka US$ 153,25 per ton.

Di sisi lain, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak September 2026 mencatat kenaikan US$ 1 menjadi US$ 138,75 per ton. Kontrak Oktober 2026 melonjak US$ 1,15 ke US$ 139,65 per ton, dan kontrak November 2026 menguat signifikan US$ 1,75 menjadi US$ 140 per ton.

Menurut data bea cukai China yang dikutip dari Tradingview, impor batu bara negara tersebut pada Agustus 2026 tercatat sebesar 42,09 juta ton. Angka ini turun 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan juga lebih rendah dibandingkan impor Juli yang mencapai 43,73 juta ton.

Meskipun demikian, total impor batu bara China sepanjang tujuh bulan pertama 2026 masih menunjukkan pertumbuhan sebesar 3%, mencapai 310,19 juta ton.

Pelemahan impor pada Agustus menjadi sorotan pasar karena China merupakan konsumen utama batu bara global. Penurunan ini dapat mengindikasikan berkurangnya kebutuhan energi atau peningkatan penggunaan sumber energi alternatif di negara tersebut.

Penggunaan Batu Bara Tertekan

Selain data impor, penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik di China juga menunjukkan tren penurunan. Pembangkit listrik berbahan bakar fosil, yang mayoritas menggunakan batu bara, mengalami penurunan produksi sebesar 3,5% pada Juli 2026 jika dibandingkan dengan Juli tahun sebelumnya. Ini merupakan penurunan pertama yang tercatat sepanjang tahun ini.

Salah satu faktor yang memengaruhi penurunan ini adalah peningkatan produksi listrik dari tenaga air. Curah hujan yang lebih tinggi di wilayah barat daya China mendorong optimalisasi pembangkit listrik tenaga air, sehingga mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil.

Data rinci mengenai pembangkit listrik China untuk bulan Agustus dijadwalkan akan dirilis pada akhir September. Perkembangan ini menjadi indikator penting bagi pasar batu bara. Jika tren pelemahan impor dan penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik terus berlanjut, permintaan batu bara dari China berpotensi menghadapi tekanan lebih lanjut.