— Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) telah membeberkan arah pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Pengembangan ini berpatokan pada lima dimensi utama yang dirancang untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Fokus utamanya adalah bagaimana AI dapat menjawab kebutuhan dan persoalan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar kecanggihan teknologi.

“Tujuan bersama kita adalah mengembangkan meaningful AI, yaitu AI yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Meutya dalam keterangan resminya, Senin (7/9/2026).

Meutya menjelaskan bahwa meaningful AI mencakup lima dimensi. Pertama, AI for productivity, yang bertujuan meningkatkan efektivitas kerja individu dan organisasi. Kedua, AI for public good, untuk perbaikan di sektor pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, dan sistem pangan. Ketiga, AI for inclusion, yang berupaya memperluas akses terhadap pengetahuan, kesempatan, dan layanan dasar. Keempat, AI for competitiveness, untuk memperkuat talenta, riset, inovasi, dan bisnis Indonesia. Kelima, AI for resilience, yang akan membantu masyarakat dalam menghadapi ancaman keamanan siber, bencana, risiko iklim, dan berbagai gangguan lainnya.

“Indonesia harus membangun kemampuan sendiri dengan menyelaraskan kebijakan, riset, talenta, investasi, infrastruktur, dan implementasi AI berdasarkan kebutuhan dan nilai-nilai nasional,” ungkap Meutya.

Ia menambahkan bahwa implementasi meaningful AI harus dapat diukur dampaknya. Sebagai contoh, di sektor pertanian, teknologi Internet of Things (IoT) telah berhasil mengurangi penggunaan pupuk lebih dari 40%. Sementara itu, di sektor perikanan, teknologi digital mampu meningkatkan produksi lebih dari 40%. Kemkomdigi juga telah memfasilitasi 150 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Wonogiri dan Banyuwangi dalam pemanfaatan AI untuk perencanaan bisnis, foto produk, branding, konten, dan pemasaran digital.

Untuk memperkuat dampak nyata dari meaningful AI, Pemerintah sedang memperkuat tata kelola AI melalui persiapan National AI Roadmap 2026–2029 dan regulasi etika AI berbasis risiko. Kerangka ini menempatkan kemanusiaan, keselamatan, transparansi, akuntabilitas, pelindungan data pribadi, keberlanjutan lingkungan, dan kekayaan intelektual sebagai nilai yang harus dijaga dalam pengembangan AI.

“Pemerintah harus menyediakan arah dan perlindungan, sementara seluruh ekosistem harus memastikan AI tetap terhubung dengan nilai kemanusiaan dan kebutuhan masyarakat. Masa depan AI tidak hanya ditentukan oleh algoritma, kapasitas komputasi, atau besarnya investasi. Masa depan AI juga ditentukan oleh nilai-nilai yang kita pertahankan, pilihan yang kita buat, dan tanggung jawab yang kita emban,” tutur Meutya.

Implementasi AI di Sektor Bisnis

Platform dompet digital DANA juga menyoroti manfaat AI dalam meningkatkan produktivitas dan bisnis, khususnya di sektor keuangan digital. DANA menekankan bahwa adopsi AI yang masif belum tentu menghasilkan nilai nyata jika tidak mampu menyelesaikan persoalan, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan dampak yang terukur bagi bisnis.

CEO & Co-Founder DANA Indonesia, Vince Iswara, menyatakan bahwa perusahaan perlu mengukur keberhasilan AI terhadap proses kerja dan perubahan bisnis, bukan hanya dari seberapa banyak AI digunakan. “Adopsi AI bukan lagi tujuan akhir. Nilainya baru tercipta ketika teknologi tersebut membantu menyelesaikan persoalan yang nyata, memperbaiki kualitas keputusan, dan memberikan hasil yang dapat diukur. Namun, manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan konteks, menjaga kualitas, mengelola risiko, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya,” ujar Vince.

Saat ini, sekitar 80-90% kode di DANA dihasilkan dengan dukungan AI. Meskipun demikian, peran engineer tidak berhenti pada pemeriksaan kualitas. Mereka tetap bertanggung jawab dalam merumuskan persoalan, merancang arsitektur sistem, melakukan validasi, memastikan keamanan, serta mengambil keputusan atas hasil akhir.

Peningkatan Produktivitas Melalui Agentic AI

Selama 2025, implementasi agentic AI pada sejumlah proses operasional DANA mencatat peningkatan produktivitas hingga 57%, peningkatan kepuasan pelanggan sebesar 13%, serta percepatan penyelesaian layanan sebesar 10%. Pendekatan lain yang diterapkan DANA adalah melalui penerapan smart friction, yaitu penambahan lapisan verifikasi secara terukur pada aktivitas yang memiliki indikasi risiko lebih tinggi.

“Lewat kolaborasi lintas sektor bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), langkah tersebut berkontribusi terhadap penurunan aktivitas terindikasi perjudian online di platform hingga 80% sepanjang 2025,” tegas Vince.

Sementara itu, Peneliti Kaspersky menyoroti bahaya kepercayaan mutlak terhadap AI tanpa verifikasi yang memadai. Kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh penyerang siber. “Ketika kecepatan melampaui verifikasi, kecepatan tersebut justru dapat memperbesar risiko,” kata Peneliti Keamanan di GReAT (Global Research and Analysis Team) Kaspersky, Sojun Ryu.

Peneliti Kaspersky menemukan 92.000 serangan berbahaya yang menyamar sebagai layanan AI. Hampir separuhnya (49%) menyamar sebagai aplikasi ChatGPT, sementara Claude dan Gemini masing-masing mencakup 18%. Aplikasi-aplikasi resmi ini sangat penting untuk bekerja dengan agen AI dan menjadi titik awal lingkungan pengembangan.