Jurnal Indonesia — Investor asing kembali melakukan aksi jual bersih atau net sell di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 9 September 2026. Sejumlah saham unggulan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menjadi sasaran utama pelepasan dana oleh investor mancanegara.
Secara keseluruhan, total net sell asing di seluruh pasar pada hari itu mencapai Rp 438,5 miliar. Akumulasi net sell asing sepanjang tahun berjalan ini pun bertambah menjadi Rp 68,7 triliun, berdasarkan data resmi BEI.
Saham BBCA tercatat mengalami net sell asing terbesar di pasar reguler dengan nilai Rp 638,6 miliar. Menyusul di belakangnya, saham BMRI juga dilepas asing senilai Rp 166,3 miliar. Sementara itu, saham CPIN mencatat net sell asing sebesar Rp 142,49 miliar.
Di sisi lain, terdapat beberapa saham yang justru mencatatkan transaksi beli bersih atau net buy oleh investor asing. Saham PT Antam Tbk (ANTM) menjadi yang terlaris diborong asing dengan nilai Rp 373,9 miliar. Selain itu, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga diminati asing, masing-masing dengan net buy Rp 149,4 miliar dan Rp 133,49 miliar.
Meskipun dibayangi oleh aksi jual asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup dengan penguatan tipis. IHSG menguat 8,24 poin atau 0,12% ke level 6.678,2. Perdagangan hari itu diwarnai oleh 325 saham yang menguat, 337 saham yang melemah, dan 301 saham yang stagnan, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 15,9 triliun.
Beberapa sektor saham menunjukkan kinerja positif pada penutupan pasar. Sektor transportasi memimpin penguatan dengan kenaikan 2,4%, diikuti oleh sektor perindustrian (0,9%), sektor barang baku (0,8%), sektor energi (0,7%), dan sektor infrastruktur (0,4%).
Sebaliknya, beberapa sektor mengalami pelemahan, termasuk sektor kesehatan (-1,3%), sektor barang konsumen non-primer (-1,2%), sektor teknologi (-0,9%), sektor properti (-0,8%), sektor keuangan (-0,5%), dan sektor barang konsumen primer (-0,39%).
Menurut analisis Pilarmas Investindo Sekuritas, kenaikan harga minyak dunia yang mendekati level US$ 100 per barel menjadi salah satu sentimen utama yang membebani pasar. Selain itu, pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) pekan ini, yang akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed menjelang pertemuan bank sentral AS pekan depan.
Dari dalam negeri, Pilarmas mengungkapkan bahwa tekanan eksternal menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan IHSG. Namun, sentimen konsumsi domestik masih menunjukkan kondisi yang positif. Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 mencapai 118,5, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 116,8.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.