Jurnal Indonesia — Jakarta tidak hanya menawarkan pesona gedung pencakar langit, museum, atau kawasan bersejarah. Ibu kota Indonesia ini juga memiliki cara unik untuk memperkenalkan diri melalui kekayaan kulinernya.
Lucky Wulandari, Kepala Bidang Pemasaran dan Atraksi Disparekraf DKI Jakarta, menjelaskan bahwa wisatawan dapat menjelajahi aneka hidangan khas yang merekam jejak sejarah dan kebudayaan Jakarta. “Bagi wisatawan dari luar Jakarta bahkan mancanegara, berburu kuliner di ibu kota sebaiknya tidak berhenti pada makanan yang sedang populer. Yang lebih menarik adalah menyusuri hidangan yang merekam perjalanan kota-dari tradisi Betawi, pengaruh Tionghoa, hingga budaya makan malam yang membuat Jakarta tetap hidup setelah matahari terbenam,” ujar Lucky dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9/2026).
Perpaduan budaya Betawi, Melayu, Arab, Tionghoa, Jawa, serta pengaruh kolonial membentuk kuliner Jakarta. Oleh karena itu, perjalanan gastronomi di ibu kota merupakan cara untuk membaca sejarah kota melalui cita rasa.
Pagi Dimulai dari Kuliner Betawi yang Mulai Langka
Perjalanan kuliner bisa dimulai sejak pukul 06.00 dengan menikmati Bubur Ase Betawi di kedai Bubur Ase Cik Lis, Jalan Kebon Melati, Tanah Abang. Sajian unik ini berbeda dari bubur daerah lain, menyajikan nasi dengan kuah semur atau kuah ase gelap, kentang, tahu, daging atau jeroan, serta pelengkap khas Betawi.
Kedai Bubur Ase Cik Lis yang merupakan kuliner langka Betawi ini buka mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB.
Selain itu, wisatawan juga dapat mencoba sarapan Nasi Uduk Zainal Fanani di Kebon Kacang, Tanah Abang. Kedai yang berdiri sejak 1967 ini menyajikan nasi yang dimasak dengan santan dan rempah, ditemani beragam lauk seperti ayam goreng, empal, paru, babat, sate udang, tahu, hingga tempe.
Seorang penikmat kuliner asal Bandung, Giovanni A, terpesona dengan nasi uduk dan ayam gorengnya, meskipun menyayangkan porsi yang sedikit dan sambal yang kurang menggigit.
Siang, Saat Kuliner Jakarta Menunjukkan Keragamannya
Saat makan siang, wisatawan dapat mengunjungi area Menteng untuk mencicipi Gado-Gado Bon Bin. Ciri khas versi Jakarta terletak pada saus kacang mede yang melengkapi sayuran rebus, tahu, tempe, kentang, telur, dan lontong. Gado-gado Bon Bin telah bertahan sekitar enam dekade.
Selanjutnya, kedai Soto Betawi Haji Husen di Jalan Padang Panjang, Pasar Manggis, Setiabudi, Jakarta Selatan, menawarkan karakter kuat kuliner Betawi dengan isian daging dan jeroan melimpah dalam kuah santan kaya rempah. Suasana warung yang otentik menambah pengalaman bersantap.
Wisatawan asal Yogyakarta, Bram Hendro, memuji Soto Betawi Haji Husen berkat daging empuk, jeroan yang tidak berbau, serta tambahan paru goreng yang gurih renyah.
Jika masih ada ruang, mencicipi kesegaran Asinan Betawi H. Mansyur Kamboja di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, bisa menjadi pilihan. Kombinasi sayur dan tahu dalam kuah kacang asam, manis, dan pedasnya mampu menetralkan lidah.
Sore Membaca Jakarta dari Pasar dan Jajanan Jalanan
Agenda kuliner sore hari dapat dilanjutkan ke kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, untuk mencicipi Bakmi Gang Kelinci. Keberadaan bakmi di sini menunjukkan bagaimana pertemuan berbagai komunitas, terutama Tionghoa, membentuk budaya makan Jakarta.
Jajanan legendaris lainnya yang wajib dicoba adalah kerak telor. Dibuat dari beras ketan, telur, ebi, kelapa sangrai, dan bawang goreng yang dimasak tradisional menggunakan arang, daya tariknya terletak pada rasa gurih, tekstur renyah, dan proses memasaknya yang unik.
Malam Menjadi Babak Penutup
Menjelang malam, wisatawan bisa kembali ke kuliner bersejarah melalui Soto Betawi H. Ma’ruf di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Hidangan yang dikenal sejak era 1940-an ini menawarkan kuah kaya rasa dengan daging, kentang, dan tomat, melanjutkan cerita kuliner lintas generasi.
Untuk makan malam, Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih, Jakarta Pusat, menjadi pilihan yang tepat. Nasi goreng dengan potongan daging kambing dan rempah kuat ini menghadirkan karakter gurih, smoky, dan aromatik. Jam operasionalnya yang panjang membuatnya cocok untuk kuliner malam.
Budi Santoso, wisatawan asal Kediri, menilai keistimewaan nasi goreng ini terletak pada kekuatan racikan rempah dan kualitas daging kambingnya yang empuk serta aroma bumbu yang pekat.
Perjalanan kuliner dapat ditutup dengan manis di kawasan Pecenongan, pusat kuliner malam legendaris Jakarta. Pengunjung bisa menikmati martabak manis bertabur cokelat dan keju, atau martabak telur yang tebal gurih.
Lebih Sekadar Makan
Kekuatan wisata kuliner Jakarta dari pagi sampai malam adalah ceritanya. Pengaruh Melayu, Timur Tengah, Tionghoa, dan berbagai budaya lain turut membentuk kuliner Betawi serta gastronomi ibu kota.
Dari semangkuk bubur ase, nasi uduk, saus kacang, rempah soto, kerak telor hingga martabak tengah malam, Jakarta memperlihatkan dirinya sebagai kota yang tumbuh dari pertemuan banyak budaya, yang semuanya meninggalkan jejak di meja makan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.