Jurnal Indonesia — Lebak – Musim kemarau yang melanda Indonesia kali ini membawa fenomena unik di Kabupaten Lebak, Banten. Air Bendungan Karian dilaporkan menyusut, sehingga menampakkan kembali sisa-sisa bangunan dari sebuah kampung yang dulunya tenggelam. Penampakan ini terjadi setelah beberapa tahun kawasan tersebut terendam air.
Tembok-tembok rumah yang kini terlihat di permukaan, meskipun sudah tidak beratap, menandakan bahwa kampung tersebut dulunya merupakan area permukiman yang padat penduduk. Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha BBWS Cidanau Ciujung Cidurian (C3), Maretha Ayu Kusumawati, menjelaskan bahwa lokasi ini berada di ujung genangan Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, tepatnya di area hulu.
Bangunan-bangunan tersebut tidak dihancurkan saat proses penenggelaman waduk. Pihak berwenang hanya melakukan pembersihan tanaman di area yang terdampak. “Kondisi seluruh area genangan, meski sudah dibebaskan, tidak dilakukan demolish untuk seluruh bangunan yang terdampak. Adapun yang dilakukan proses clearing oleh tim konstruksi hanya tanamannya saja,” jelas Maretha.
Saat ini, ketinggian air di waduk menyusut sekitar 5%. Kondisi ini membuat bangunan rumah yang ditinggalkan oleh warga tampak jelas. “Pada Muka Air Banjir (MAB) waduk, sebagian rumah akan tenggelam karena beda tinggi dengan muka air normal sekitar 3,35 m. Elevasi saat ini turun sekitar 80 cm dari muka air normal,” tambahnya.
Kepala BBWS C3, Dedi Yudha Lesmana, memastikan bahwa kondisi air waduk masih aman untuk kebutuhan irigasi di wilayah sekitar. “Jika di hilir membutuhkan air lebih banyak, masih dapat dikeluarkan dari Karian,” ujar Dedi.
Kampung Muncul Pertama Kali Sejak 2023
Kampung yang ditenggelamkan di Bendungan Karian ini muncul untuk pertama kalinya sejak tahun 2023. Fenomena ini merupakan dampak dari kemarau panjang yang menyebabkan penurunan debit air di bendungan.
Dedi Yudha Lesmana mengungkapkan bahwa biasanya hanya sebagian bangunan yang terlihat. Namun, kali ini sisa-sisa permukiman warga di bekas Desa Sukarame dan Desa Sukajaya terlihat dengan lebih jelas. “Karena kemarau ekstrem sepertinya, baru kali ini terlihat,” katanya.
Membangkitkan Nostalgia Warga
Kemunculan kampung ini ternyata membangkitkan nostalgia bagi warga yang dulunya tinggal di area tersebut. Salah seorang warga, Odon, menceritakan bahwa biasanya hanya atap masjid yang terlihat jika air tinggi. Kini, banyak rumah yang tampak jelas.
“Banyak juga sih yang timbul, kayak di Kampung Susukan, Karian, timbul lagi, soalnya surut. Terus Somang, Desa Sukajaya… Kalau Somang setengahnya. Sukarame,” ujar Odon.
Rumah Odon dulunya berada di Kampung Bolang, yang kini berada di tengah-tengah waduk. Ia sempat berkunjung ke lokasi tersebut dua pekan lalu saat air mulai surut. “Iya mengenang, mengenang tanah tempat kelahiran dulu,” kata Odon.
Banyak warga yang tidak pindah jauh dari kampung halaman mereka. Mereka membeli rumah baru di dekat Bendungan Karian. Warga sering menggunakan rakit untuk berkunjung ke area waduk, mencoba mengenali kembali lokasi rumah mereka yang lama. “Warga di situ yang bikin rakit, kan ada yang kalau yang punya duit membeli perahu,” tuturnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.