— JAKARTA – Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup menguat tajam pada perdagangan Senin, 7 September 2026. Penguatan ini membawa harga minyak sawit mendekati level tertinggi yang pernah dicapai sejak Desember 2024. Kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan produksi akibat kebakaran hutan yang meluas di Indonesia menjadi pemicu utama kenaikan harga ini.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman September 2026 melonjak 90 Ringgit Malaysia menjadi 4.698 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 menyusul dengan kenaikan 41 ringgit Malaysia menjadi 4.816 ringgit Malaysia per ton. Kontrak November 2026 tercatat melesat 49 ringgit Malaysia ke angka 4.978 ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Desember 2026 terbang 56 ringgit Malaysia menjadi 5.110 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Januari 2027 terkerek 59 ringgit Malaysia menjadi 5.214 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Februari 2027 menguat 67 ringgit Malaysia menjadi 5.294 ringgit Malaysia per ton.

Harga minyak sawit sempat menembus angka 4.970 Ringgit Malaysia per ton, sebuah level yang sangat dekat dengan pencapaian tertinggi sejak Desember 2024. Pergerakan harga ini terjadi di tengah perhatian pelaku pasar terhadap dampak kebakaran hutan yang meluas di Indonesia, sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia.

Kebakaran hutan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia telah memicu penyebaran kabut asap tebal hingga ke berbagai negara di Asia Tenggara. Kondisi ini berpotensi mengganggu berbagai aktivitas di sektor perkebunan sawit, termasuk proses panen. Laporan menyebutkan bahwa sejumlah pekerja perkebunan terpaksa dialihkan untuk membantu upaya penanganan kebakaran. Selain menghambat kegiatan panen, paparan asap yang berkepanjangan dan berkurangnya intensitas sinar matahari juga dikhawatirkan dapat memengaruhi perkembangan buah sawit.

Kondisi kekeringan diperparah oleh pola cuaca El Nino yang meningkatkan risiko terjadinya kebakaran dan memperpanjang periode penyebaran kabut asap lintas negara. Lebih dari 202.000 hektare lahan dilaporkan telah terbakar di wilayah Kalimantan dan Sumatra. Kualitas udara memburuk di sejumlah wilayah Indonesia, serta di Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Situasi ini membuat pelaku pasar secara cermat memantau potensi gangguan terhadap pasokan minyak sawit global, terutama jika kebakaran terus berlangsung lebih lama dan semakin menghambat aktivitas perkebunan. Meski demikian, potensi peningkatan curah hujan yang diperkirakan terjadi sekitar bulan Oktober dapat membantu meredakan kebakaran sebelum memasuki musim hujan.

Selain kekhawatiran terhadap sisi pasokan, kenaikan harga CPO juga mendapat dorongan tambahan dari penguatan harga minyak mentah dan minyak nabati lainnya. Harga minyak mentah yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku energi alternatif, memberikan sentimen positif tambahan bagi harga CPO di tengah kekhawatiran mengenai produksinya.