Jurnal Indonesia — Sungai Barito di Kalimantan Tengah (Kalteng) kini menunjukkan pemandangan tak biasa akibat musim kemarau yang melanda. Hamparan pasir luas muncul di tengah sungai, mengubah lanskap yang biasanya dipenuhi aliran air menjadi seperti gurun pasir, terutama di sekitar Jembatan Kalahien, Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan.
Fenomena ini mulai terlihat jelas sejak awal Agustus, ditandai dengan penurunan debit air yang signifikan. Daratan yang muncul di tengah sungai menjadi bukti nyata surutnya air. Kondisi ini tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas transportasi air yang vital bagi masyarakat setempat.
Sejumlah kapal pengangkut barang dan tongkang dilaporkan mengalami kesulitan melintasi bagian sungai yang dangkal. Mereka terpaksa memperlambat perjalanan, mencari alur yang masih memungkinkan, atau bahkan tertahan akibat kedalaman air yang tidak lagi memadai. Hal ini berdampak langsung pada kelancaran distribusi barang dan kebutuhan pokok masyarakat di wilayah sekitar aliran sungai.
Jika kondisi surut terus berlanjut, gangguan terhadap transportasi air dikhawatirkan akan semakin meluas. Pendangkalan yang terjadi berpotensi mempersempit ruang gerak kapal, terutama bagi armada berukuran besar. Munculnya gosong pasir di sekitar Jembatan Kalahien menjadi gambaran nyata dampak kemarau panjang terhadap kondisi sungai di Kalteng.
Bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi sungai, surutnya Sungai Barito bukan sekadar perubahan pemandangan. Fenomena ini dapat berimbas pada kelancaran mobilitas, distribusi barang, hingga aktivitas ekonomi jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Penjelasan BMKG Mengenai Kemarau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena mengeringnya Sungai Barito disebabkan oleh wilayah Kalteng yang tengah memasuki puncak musim kemarau. Menurut Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab, curah hujan di Kalteng pada Dasarian I Agustus 2026 tercatat dalam kategori rendah, yaitu 0-10 mm per dasarian.
Fachri menambahkan bahwa sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori menengah (11-20 hari berturut-turut) hingga sangat panjang (31-60 hari berturut-turut tanpa hujan). “Saat ini, di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalteng memang dalam periode puncak musim kemarau,” ungkapnya.
Transportasi Sungai Terancam Lumpuh
Sekretaris Utama BMKG Guswanto memaparkan bahwa surutnya Sungai Barito merupakan dampak nyata dari kemarau ekstrem dan rendahnya curah hujan. Fenomena ini membawa konsekuensi serius bagi transportasi, logistik, dan ekonomi regional.
Guswanto menyebutkan bahwa Sungai Barito mengalami penurunan debit air yang drastis di Muara Teweh, dengan ketinggian air hanya sekitar 0,6 meter dari ketinggian normal yang biasanya mencapai 5-11,5 meter. “Akibatnya, transportasi sungai hampir lumpuh,” ujarnya.
Hamparan pasir yang muncul di bawah Jembatan Kalahien, Barito Selatan, semakin memperparah situasi. Kapal besar, tongkang batubara, minyak, dan kayu tidak dapat berlayar, menyisakan hanya perahu kecil seperti jukung yang masih bisa beroperasi secara terbatas.
Guswanto menjelaskan beberapa faktor penyebabnya, termasuk kemarau panjang, curah hujan yang rendah, dan fenomena regional. Penurunan curah hujan di Kalteng menyebabkan pasokan air dari hulu Pegunungan Schwaner berkurang drastis. Kondisi serupa yang terjadi di sungai lain di Kalimantan menandakan adanya pola iklim yang lebih ekstrem.
Guswanto mewanti-wanti ancaman jangka panjang dari fenomena ini. Jika tren penurunan debit air terus berlanjut, dikhawatirkan akan menurunkan kontribusi sektor pertambangan dan perkebunan terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) daerah. “Ini adalah bagian dari siklus iklim yang lebih kering, dengan konsekuensi serius bagi transportasi, logistik, dan ekonomi regional,” tegasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.