— JAKARTA – Harga minyak mentah Brent kembali menembus level US$100 per barel pada Rabu (09/09/2026), menandai pertama kalinya sejak 24 Juli 2026. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan dan jalur pengiriman minyak dunia.

Harga acuan Brent untuk kontrak terdekat tercatat naik US$2,74 atau 2,8% menjadi US$100,66 per barel, bahkan sempat menyentuh US$100,95 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami kenaikan signifikan, bertambah US$2,74 atau 3% menjadi US$95,77 per barel, level tertinggi sejak awal Juni. Kedua harga acuan ini berada di jalur kenaikan harian terbesar secara persentase sejak 1 September.

Sebelumnya, harga Brent sempat melonjak hingga US$126,41 per barel pada 30 April 2026, menyusul dimulainya perang Iran pada 28 Februari. Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menyatakan bahwa kembalinya harga Brent di atas US$100 mencerminkan perubahan persepsi pasar mengenai durasi konflik di Timur Tengah dan potensi dampaknya terhadap pasokan.

“Pasar makin harus mengubah pandangannya mengenai berapa lama krisis Timur Tengah akan terus membatasi pasokan dari kawasan tersebut,” ujar Hansen, mengutip Reuters. Eskalasi konflik terlihat dari serangan pasukan AS terhadap sejumlah kapal tanker minyak Iran, serta target Iran terhadap pangkalan AS di Yordania dan serangan terhadap kapal-kapal lain. Insiden yang melibatkan tanker produk minyak berbendera Gibraltar, Hercules Star, di lepas pantai Dubai dilaporkan menewaskan seorang pelaut.

Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap fasilitas energi Arab Saudi juga memicu kebakaran di instalasi minyak, memperbesar risiko meluasnya konflik. Perkembangan ini secara langsung mengancam kelancaran pengiriman minyak melalui Laut Merah, yang merupakan jalur alternatif krusial ketika arus minyak melalui Selat Hormuz terganggu.

Ekonom Senior Iklim dan Komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, menambahkan bahwa pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan konflik yang berkepanjangan serta risiko gangguan aliran minyak dari Timur Tengah. Salah satu ancaman utama adalah berkurangnya aktivitas transfer minyak antarkapal di Teluk Oman akibat serangan terhadap kapal tanker. Aktivitas ini sebelumnya sangat vital dalam menjaga pasokan minyak global dan menahan lonjakan harga.

Pada Rabu, sebuah tanker yang membawa sekitar 2 juta barel bahan bakar minyak Irak dilaporkan terkena serangan drone di perairan teritorial Irak. Lembaga UKMTO, yang terkait dengan Angkatan Laut Inggris, juga melaporkan beberapa kapal dagang di kawasan Teluk mengalami kerusakan akibat serangan. Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, menjelaskan bahwa sebelum pertempuran kembali meningkat pada 30 Agustus 2026, sekitar 8 hingga 9 juta barel minyak per hari mengalir melalui Selat Hormuz. Namun, kini arus minyak melalui jalur strategis tersebut turun drastis menjadi di bawah 2 juta barel per hari.

Data awal Kpler menunjukkan hanya enam kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa (08/09/2026), menurun dari sembilan kapal sehari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 12 kapal. Kenaikan harga acuan Brent ini mengikuti pergerakan pasar minyak fisik yang telah lebih dulu menembus level US$100 per barel. Data LSEG menunjukkan dated Brent, acuan harga untuk sekitar dua pertiga pasokan minyak dunia, telah berada di atas US$100 per barel sejak 3 September.

Pasar fisik cenderung bereaksi lebih cepat terhadap gangguan pasokan karena pembeli harus segera mencari kargo alternatif. Tekanan juga terlihat pada harga produk olahan seperti bensin dan diesel. Harga acuan diesel Eropa diperdagangkan sekitar US$199 per barel pada Rabu, dan belum pernah turun di bawah US$100 sejak perang Iran dimulai. Margin pengilangan diesel, atau selisih harga diesel terhadap minyak mentah, juga berada di level tinggi akibat keterbatasan pasokan, sempat mencapai US$78,90 per barel pada 1 September.

Sebagai perbandingan, rata-rata margin pengilangan diesel hanya sekitar US$21 per barel pada 2025 dan US$19,52 pada 2024. Wakil Presiden Senior untuk Pengilangan, Kimia, dan Pasar Minyak Wood Mackenzie, Alan Gelder, menyebutkan kapasitas pengilangan global saat ini dalam kondisi ketat karena penurunan ekspor dari Selat Hormuz dan Rusia, serta terbatasnya tingkat pemrosesan kilang di Asia. “Kita berada dalam situasi di mana sebenarnya, jika margin pengilangan berada pada tingkat normal, harga minyak mentah setara dengan sekitar US$150 per barel,” ucapnya.

Harga bensin Eropa juga telah berada di atas US$100 per barel sejak Maret. Premi bensin terhadap minyak mentah mendekati rekor di atas US$60 per barel pada awal September. Di Amerika Serikat, harga bensin mencapai rekor pada akhir pekan Labor Day, sementara harga diesel menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada pekan lalu. Kenaikan harga minyak dan bahan bakar ini berpotensi menambah tekanan inflasi global, yang dapat mempersulit upaya bank sentral dalam mengendalikan inflasi tinggi. “Kondisi ini memperumit situasi karena bank-bank sentral di seluruh dunia sedang berupaya mengatasi inflasi yang tinggi,” tambah Strategis Komoditas WisdomTree Nitesh Shah.