Jurnal Indonesia — Korea Selatan mempercepat transformasi angkatan bersenjatanya menuju konsep Smart Army sebagai respons terhadap penurunan angka kelahiran yang mengikis jumlah calon personel militer. Pemerintah mengalokasikan investasi awal sebesar 40 miliar won atau sekitar Rp 474 miliar untuk mempercepat penerapan teknologi kecerdasan buatan di sektor pertahanan.
Program itu diluncurkan melalui inisiatif bernama “Proyek Dukungan Komersialisasi Cepat Aplikasi Kecerdasan Buatan”, yang bertujuan mengadopsi teknologi AI sipil yang telah matang untuk keperluan militer.
Ruang Lingkup Proyek
Pemerintah menetapkan 20 kategori penelitian yang terbagi dalam empat bidang utama. Di sektor dukungan tempur, AI direncanakan untuk digunakan pada pengawasan perbatasan, pengintaian berbasis drone, serta platform pengambilan keputusan yang mampu menganalisis data secara cepat.
Rencana pengembangan juga mencakup penerapan AI untuk mendukung struktur kekuatan militer, seperti klasifikasi cepat prajurit yang terluka, manajemen logistik pintar, patroli keamanan otomatis di barak, dan deteksi dini kerusakan peralatan.
Target Implementasi
Sebagai bagian dari agenda modernisasi bernama Defense Reform 4.0, fase awal proyek ditargetkan rampung pada akhir 2027. Setelah itu, pemerintah menargetkan pembentukan sekitar 90 unit tempur berbasis AI sebelum 2028.
Selain itu, sebanyak 16 fasilitas latihan simulasi cerdas direncanakan beroperasi pada 2032 untuk mendukung pelatihan personel di era digital. Pemerintah juga berencana menaikkan porsi anggaran untuk teknologi AI dan sistem tanpa awak dari 15% menjadi 20% dalam lima tahun ke depan.
Fokus Keamanan dan Efisiensi
Penggunaan AI diharapkan meningkatkan efisiensi operasional, termasuk pengelolaan anggaran pertahanan, rantai pasok industri militer, dan optimalisasi penggunaan energi di fasilitas pertahanan. Keamanan siber menjadi fokus utama, dengan pemanfaatan AI untuk mendeteksi serangan siber, mengidentifikasi penyusupan jaringan, dan memperkuat enkripsi data.
Tantangan Pelaksanaan
Meski menawarkan potensi, sejumlah tantangan diakui mengiringi upaya ini. Salah satu kendala adalah besarnya biaya pengembangan teknologi: anggaran 40 miliar won dinilai relatif kecil bila harus dialokasikan ke 20 kategori penelitian yang memerlukan riset tingkat tinggi.
Aspek keamanan operasional juga disorot, termasuk kebutuhan sistem AI untuk tahan terhadap serangan siber, gangguan sinyal, dan kondisi operasional ekstrem. Para pakar menyatakan AI diperkirakan berperan sebagai pendukung prajurit dalam jangka pendek, bukan pengganti penuh di medan tempur.
Dengan tingkat kelahiran yang tetap rendah, Korea Selatan melanjutkan langkah mempercepat adopsi teknologi untuk menopang kemampuan pertahanan nasional melalui konsep Smart Army.
Ikuti Jurnal Indonesia
