— Gempa kuat bermagnitudo 7,4 mengguncang Kolombia pada Senin (10/8) malam waktu Indonesia. Para pakar mengidentifikasi penyebabnya adalah deformasi di dalam Lempeng Nazca yang menunjam ke bawah Lempeng Amerika Selatan.

Menurut Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, gempa terjadi pada pukul 19.34.27 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa memiliki magnitudo 7,4 dengan kedalaman 95 kilometer.

Episenter gempa berada pada koordinat 4,93 derajat Lintang Utara dan 76,06 derajat Bujur Barat. Lokasinya berada di darat, sekitar 3 kilometer barat laut El Aguila, Kolombia.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat deformasi dalam lempeng samudra yang menunjam (intra-slab),” kata Wijayanto dalam keterangannya, Senin (10/8).

Analisis mekanisme sumber BMKG menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan geser naik atau oblique thrust fault. Wijayanto memastikan hasil pemodelan menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia.

Jangkauan Gempa yang Luas

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan gempa tersebut merupakan manifestasi deformasi internal Lempeng Nazca pada sistem subduksi aktif Kolombia.

Lempeng samudra Nazca menunjam ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan di sepanjang sistem subduksi Palung Peru-Chili. Menurut Daryono, gempa intraslab terjadi akibat deformasi internal, regangan mekanis, maupun patahan pada bagian lempeng yang telah menunjam.

Pelepasan tegangan dari proses tersebut kemudian menghasilkan gelombang seismik yang dapat menjangkau wilayah sangat luas. Daryono menjelaskan gempa intraslab pada kedalaman menengah memiliki karakteristik rambatan gelombang yang khas.

Energi gempa merambat melalui lempeng yang kaku, padat, dan relatif dingin. Kondisi ini membuat pelemahan atau atenuasi gelombang relatif rendah, sehingga energi gempa berfrekuensi tinggi dapat merambat dengan efisien. Akibatnya, guncangan dapat terasa kuat dan menjangkau wilayah yang jauh dari pusat gempa.

“Kondisi material ini menyebabkan tingkat atenuasi gelombang sangat rendah, sehingga energi gempa berfrekuensi tinggi dapat ditransmisikan secara sangat efisien. Alhasil, guncangan tanah yang dihasilkan cenderung lebih kuat dan destruktif jika dibandingkan dengan gempa interplate bernilai magnitudo setara di sumber lain,” terang Daryono.

Selain itu, posisi sumber gempa pada kedalaman menengah membuat gelombang seismik dapat memancar ke permukaan dengan cakupan yang luas. Wilayah yang berjarak ratusan kilometer dari episenter pun masih dapat merasakan getaran.

Riwayat Gempa Besar Kolombia

Gempa pada 10 Agustus 2026 menjadi salah satu gempa kuat yang mengguncang wilayah barat Kolombia. Sebelumnya, Kolombia mencatat sejumlah kejadian gempa kuat.

Salah satunya adalah Gempa Cúcuta pada 1875 yang dilaporkan menewaskan sekitar 10 ribu orang di dekat perbatasan Venezuela. Kemudian pada 1906, gempa magnitudo 8,8 terjadi di lepas pantai perbatasan Ekuador-Kolombia. Gempa tersebut diketahui memicu tsunami besar dan menewaskan hingga 1.500 orang.

Selain itu, pada 1999, gempa magnitudo 6,2 mengguncang kawasan kopi atau Eje Cafetero di sekitar Armenia dan menewaskan lebih dari 1.000 orang.