— NEW YORK – Jaringan blockchain yang terhubung dengan Bitcoin (BTC), Liquid Network, menjadi korban peretasan terbaru dengan nilai kerugian mencapai US$ 320 juta atau sekitar Rp 5,6 triliun. Aksi peretasan ini dilaporkan menguras sekitar 4.000 dari total 4.200 Bitcoin yang disimpan di dalam dompet Liquid Federation.

Manajemen Liquid Network mengonfirmasi melalui platform X bahwa seluruh transaksi baru di jaringannya telah dihentikan sementara. Pihak perusahaan menyebut para pelaku mengklaim diri sebagai purported white-hat hackers, sebutan bagi peretas yang mengeksploitasi celah keamanan dengan tujuan mengembalikan dana tersebut usai menerima imbalan tertentu.

Hasil penelusuran awal menunjukkan dana tersebut ditarik melalui SideSwap, platform penyelesaian transaksi yang terotorisasi di dalam jaringan. Meski demikian, Liquid Network mengklaim kunci enkripsi (private key) mereka tidak mengalami kebocoran.

CEO firma teknologi keamanan siber FailSafe, Aneirin Flynn, menduga terdapat celah bug yang memungkinkan peretas mencetak token Liquid Bitcoin (L-BTC) secara tidak sah hingga menguras 95% cadangan dana.

Insiden ini menambah panjang deretan peretasan yang mengguncang industri aset digital sepanjang tahun ini. Pada pekan sebelumnya, platform pinjaman digital yang terhubung dengan Crypto.com kehilangan US$ 6 juta. Sementara pada Agustus 2026, peretasan pada dompet Bitcoin offline Coldcard turut memicu keraguan publik terhadap keamanan penyimpanan aset kripto.

Didirikan pada 2018 oleh perusahaan teknologi Blockstream Corp, Liquid Network dikelola oleh federasi yang beranggotakan lebih dari 80 bursa, perusahaan infrastruktur, dan pengelola aset digital. Jaringan ini banyak dimanfaatkan oleh bursa-bursa besar seperti BTSE dan Bitfinex untuk mempercepat proses transaksi Bitcoin melalui sistem sidechain.

Liquid Network dikembangkan sebagai solusi sidechain (layer-2) untuk mengatasi keterbatasan kapasitas transaksi pada blockchain utama Bitcoin. Pemrosesan transaksi langsung di jaringan utama Bitcoin kerap mengalami penurunan kecepatan serta kenaikan biaya transfer saat terjadi lonjakan lalu lintas data.

Melalui mekanisme penguncian Bitcoin asli untuk menerbitkan token representasi (L-BTC), Liquid Network memungkinkan bursa dan institusi finansial melakukan penyelesaian transaksi secara lebih cepat. Namun, pemusatan aset bernilai tinggi dalam dompet federasi (federation wallet) kerap menjadi sasaran empuk serangan siber, yang memperlihatkan kerentanan infrastruktur pendukung dalam ekosistem aset kripto global.