Jurnal Indonesia — Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menargetkan setiap tahun sekitar 2 juta orang di Indonesia dapat memiliki rekening bank. Target ini diluncurkan mengingat masih ada sekitar 15 juta masyarakat yang belum terjangkau layanan perbankan.
Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari permintaan untuk menaikkan jumlah orang yang memiliki rekening. “Target utama kami adalah karena diminta untuk menaikkan tingkat jumlah orang yang tidak punya rekening, itu per tahun kami mau kurang lebih 2 juta menjadi punya rekening,” ujar Farid saat ditemui di sela acara Lampung Financial Festival, Minggu (6/9/2026).
Farid menekankan pentingnya perluasan kepemilikan rekening yang harus dibarengi dengan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai produk dan layanan keuangan. Ia menyoroti fenomena rekening yang sudah dimiliki namun tidak lagi aktif digunakan. “Orang-orang sudah punya rekening tapi nggak aktif. Kami minta supaya itu dikendalikan, karena itu bisa dipakai untuk hal-hal yang tidak baik,” katanya.
Lebih lanjut, LPS juga berambisi meningkatkan tingkat literasi keuangan masyarakat hingga mendekati tingkat inklusi keuangan dalam lima tahun ke depan, dengan target mencapai sekitar 80%. Farid menyatakan, peningkatan literasi menjadi fokus utama karena tingkat inklusi keuangan masyarakat saat ini sudah jauh lebih tinggi. “Sekarang masih sekitar 60%. Kami harapkan nanti mungkin dalam lima tahun bisa barangkali 80%, mendekati dengan inklusinya,” jelasnya.
Kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan menjadi tantangan yang harus segera diatasi. Tingkat inklusi keuangan masyarakat saat ini telah mencapai sekitar 93%, namun belum seluruhnya memahami produk serta risiko keuangan yang digunakan. Di sisi lain, masih terdapat sekitar 15 juta masyarakat yang belum memiliki rekening. “Harapannya tahun depan tinggal 13 jutaan yang belum punya rekening,” ujarnya.
LPS mendorong masyarakat yang memiliki rekening tidak terpakai untuk mempertimbangkan menutupnya guna mengurangi potensi penyalahgunaan rekening dormant. Pendekatan yang dilakukan LPS adalah melalui edukasi dan imbauan. “Kami kasih tahu, kami literasi. Kalau memang nggak dipakai, ditutup saja rekeningnya,” imbau Farid.
Dalam upaya meningkatkan literasi, LPS menghadapi tantangan geografis dan perubahan pola konsumsi informasi generasi muda. Meskipun teknologi digital semakin mudah diakses, tidak seluruh informasi yang dikonsumsi generasi Z berkaitan dengan edukasi keuangan. Oleh karena itu, LPS memilih memadukan pendekatan offline dengan kanal digital.
Kegiatan seperti Lampung Financial Festival dinilai penting untuk membuat pesan mengenai literasi keuangan lebih melekat di kalangan generasi muda. Farid menilai, pertemuan secara langsung dapat menciptakan pengalaman yang lebih membekas bagi generasi muda, sebelum kemudian diperkuat melalui kanal digital. LPS membuka peluang untuk terus menggelar kegiatan serupa di berbagai daerah, dengan lokasi penyelenggaraan berikutnya akan dievaluasi berdasarkan wilayah yang dinilai membutuhkan peningkatan literasi paling besar. “Yang paling penting buat kita adalah pesannya sampai. Pesannya sampai, literasinya sampai kepada seluruh kalangan, terutama generasi muda,” papar dia.
Farid menambahkan, penyelenggaraan berikutnya dapat dilakukan di Pulau Jawa maupun wilayah Indonesia bagian timur. LPS akan mengevaluasi daerah yang memberikan dampak terbesar terhadap peningkatan literasi keuangan. “Tempatnya kami belum tentukan, kami akan lakukan evaluasi yang mana yang kira-kira paling berdampak terhadap peningkatan literasi keuangan,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.