Jurnal Indonesia — MEDAN – Lurah Paya Pasir, Syerly, memberikan klarifikasi terkait video viral yang menunjukkan dirinya diduga mengejek seorang warga saat warga tersebut menyampaikan keluhan mengenai Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) kepada Wali Kota Medan, Bobby Nasution. Syerly menegaskan bahwa ia tidak mengucapkan kata ‘bah’ saat merespons ucapan warga yang disebutnya ‘cie curhat’.
Peristiwa tersebut terjadi pada 22 Juli, sekitar pukul 17.00 WIB, ketika Wali Kota Medan hendak meninjau pembangunan jalan. Syerly menjelaskan bahwa ia mendampingi Wali Kota dalam peninjauan tersebut. Saat rombongan Wali Kota hendak kembali, seorang warga bernama Ulfa menghampiri dan meminta tambahan bola lampu atau titik tiang lampu penerangan untuk Jalan Takenaka.
Syerly membenarkan bahwa Jalan Takenaka memang merupakan akses yang sering dilalui masyarakat untuk kegiatan sekolah dan bekerja, dan penerangan jalan di area tersebut memang minim. Ia menggambarkan bahwa Jalan Takenaka cenderung sepi dibandingkan dengan lingkungan permukiman yang lebih ramai.
Ia menambahkan bahwa warga yang mengadu dalam video viral tersebut memang tinggal di Jalan Takenaka. Menurutnya, di lokasi tersebut hanya terdapat dua rumah warga, sementara sebagian besar lahan lainnya adalah gudang dan tambak.
Lebih lanjut, Syerly menjelaskan bahwa permohonan pemasangan bola lampu untuk Jalan Takenaka sebenarnya sudah pernah dilaporkan ke Dinas Perhubungan (Dishub) sekitar setahun yang lalu. Ia menginformasikan bahwa warga bernama Ulfa tersebut bahkan telah mendahului pemasangan lampu dengan menggunakan dana pribadi, seperti yang terlihat dalam video.
Mengenai responsnya yang terekam dalam video, Syerly menyatakan bahwa permakluman warga bernama Ulfa untuk meminta penerangan di jalan yang sepi adalah hal yang wajar. Ia mengaku responsnya yang mengatakan, “Cie, curhat nih ye,” adalah murni spontanitas.
“Jadi untuk pelaporan bola lampu itu udah pernah kita laporkan ke Dishub setahun yang lalu. Jadi si Ulfa ini langsung curhat meminta sama Pak Rico atas bola lampu yang mana bola lampu itu sudah didahulukannya pakai dananya sendiri. Kan seperti itu di video,” ujar Syerly.
Syerly menegaskan bahwa ia tidak ada mengucapkan kata ‘bah’. Ia menduga suara tersebut terdengar karena terbawa oleh angin pesisir. Ia mengklarifikasi bahwa ekspresi dan nada bicaranya saat itu menunjukkan keakraban, bukan kemarahan, dan tujuannya adalah menyatakan bahwa warga tersebut memang sedang mencurahkan isi hatinya.
“Enggak ada (bilang ‘bah’) kayaknya terbawa angin. Karena kan belakangnya ini udah laut. Saya cuma bilang, “Cie, curhat nih ye.” Boleh lihat di ekspresi video saya itu. Kalau kita yang ekspresi itu yang marah itu kan, “Hih, curhat ye,” kan gitu, kan? Ini kan saya kan senyum, “Cie, curhat nih ye,” karena memang spontanitas,” jelasnya.
Mantan Lurah Terjun, Kecamatan Medan Marelan ini, menambahkan bahwa ucapannya dalam video tersebut muncul karena ia merasa dekat dan mengenal warga yang menyampaikan keluhan. Ia ingin menunjukkan bahwa masyarakat berhak menyampaikan aspirasinya, bahkan jika itu berupa curahan hati.
“Saya bilang seperti itu karena kita tadi kenal sama dia. Maksudnya tuh bahwa si masyarakat ini tadi memang benar dia jadi juga dia curhat sama Pak Wali. Kan kadang-kadang ada juga masyarakat yang kepingin curhat tapi enggak berani. Ada rasa segan, takut. Jadi saya memang bilang, “Cie, curhat nih ye,” itu memang betul-betul spontanitas. Refleks. Enggak ada rekayasa,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.