Jurnal Indonesia — Jakarta – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menceritakan pengalamannya bertemu salah satu tokoh terkemuka dunia kecerdasan buatan, Joshua Bengio, dalam forum Bravo 500 Summit 2026.
Meutya mengatakan pertemuan itu berlangsung di Singapura bersama Menteri Digital dan Presiden Singapura. Ia duduk berdampingan dengan Bengio, yang dikenal sebagai pionir pada bidang AI.
Awalnya Meutya berharap mendengar banyak mengenai masa depan AI dan peluang yang akan muncul dari teknologi tersebut. Namun menurutnya, pembicaraan Bengio justru didominasi peringatan tentang risiko jika AI tidak dikelola dengan baik.
“Saya sangat excited ketika itu duduk di samping beliau. Saya pikir beliau akan banyak menceritakan bagaimana AI ke depan, merubah berbagai hal, membantu banyak orang. Itu juga betul. Dia bicara sedikit tentang itu,” kata Meutya di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Meutya mengutip pernyataan Bengio yang menekankan kehati-hatian dalam regulasi: “you have to regulate cautiously.” Ia menyebut porsi pembicaraan Bengio sekitar 80 persen berisi peringatan tersebut.
Menurut Menkomdigi, Bengio lebih banyak membahas upaya mitigasi terhadap potensi kerusakan yang bisa muncul dari perkembangan AI, karena ia mengikuti perkembangan teknologi sejak tahap awal.
Pengalaman pertemuan itu, kata Meutya, memperkuat keyakinan pemerintah bahwa pengembangan AI harus disertai regulasi memadai. Ia menilai kecepatan perkembangan AI menimbulkan tantangan bagi pemerintah, regulator, pelaku industri, dan masyarakat.
“Siap atau tidak regulasi, siap atau tidak pemerintah, siap atau tidak masyarakat. Jadi ini hal-hal yang mungkin saya yakin nanti pembicara banyak perspektif,” ujarnya.
Meutya menambahkan bahwa diskusi soal AI kini tidak lagi hanya berfokus pada optimisme dan peluang ekonomi, tetapi juga mencakup kekhawatiran, mitigasi risiko, dan perlindungan masyarakat. Ia menyatakan sebagian negara menunjukkan tingkat kekhawatiran yang lebih tinggi terhadap AI dibanding antusiasme adopsinya.
Karena itu, kata Meutya, pemerintah Indonesia memilih langkah aktif menyiapkan regulasi agar inovasi dapat berkembang tanpa mengorbankan keamanan dan kepentingan publik.
“Bagi kami sebagai regulator, inovasi harus diterima dengan tangan yang amat terbuka. Tapi pada saat yang sama, perlindungan terhadap masyarakat juga harus menjadi perhatian utama,” pungkas Meutya.
Ikuti Jurnal Indonesia
