— Perkembangan paradigma alternatif dalam pembangunan ekonomi kini kian mengemuka, didorong oleh kegagalan paradigma pertumbuhan ekonomi konvensional dalam menyejahterakan negara-negara berkembang. Alih-alih mencapai kesejahteraan, paradigma tersebut justru kerap menimbulkan kesenjangan, kemiskinan ekstrem, serta kerusakan ekologi dan degradasi sumber daya alam.

Sebagai antitesis dari konsep “pertumbuhan ekonomi”, lahirlah paradigma degrowth yang menekankan pengurangan konsumsi dan produksi, keberlanjutan ekologi, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat. Sementara itu, Indonesia saat ini giat mengusung konsep ekonomi biru (blue economy) dan ekonomi hijau (green economy) yang juga berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, meskipun diberi label untuk meminimalisir dampak negatif seperti pencemaran dan limbah.

Namun, artikel ini menyoroti bahwa Indonesia belum sepenuhnya mengadopsi paradigma kontemporer lainnya. Sebuah studi oleh Emily Ghosh dan Leonie J. Pearson yang diterbitkan dalam jurnal Sustainability pada tahun 2025, menganalisis enam paradigma ekonomi terhadap 17 target Sustainable Development Goal (SDGs). Keenam paradigma tersebut adalah ekonomi kesejahteraan neoklasik, Green Growth, Steady-State Economics, Degrowth, Agrowth, dan Doughnut Economics. Analisis ini mengelompokkan dukungan paradigma terhadap dimensi SDGs: People (SDGs 1–5), Planet (SDGs 6, 12–15), Prosperity (SDGs 7–11), serta Partnerships and Peace (SDGs 16–17). Kesimpulan studi tersebut menegaskan bahwa tidak ada satu paradigma pun yang mampu mencapai seluruh 17 target SDGs secara mandiri.

Kelebihan dan Kelemahan Masing-masing Paradigma

Merujuk pada temuan Ghosh & Pearson (2025), diperlukan sebuah pendekatan “integrasi-komplementer” dari keenam paradigma ekonomi untuk mencapai SDGs, yang menghasilkan “paradigma hybrid” atau ekonomi pluralis. Pendekatan eklektik/heterodoks ini memilih elemen terbaik dari setiap paradigma sambil membuang kekurangannya untuk mendukung pencapaian SDGs 2030. Setiap paradigma memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing:

1. Ekonomi Kesejahteraan Neoklasik

Unggul dalam alokasi sumber daya efisien dan peningkatan kesejahteraan melalui mekanisme pasar. Kelemahannya terletak pada krisis ekologi dan ketimpangan sosial. Paradigma ini hanya mendukung dimensi SDGs Prosperity dan Partnerships and Peace.

2. Pertumbuhan Hijau (Green Growth)

Menawarkan inovasi teknologi, transformasi industri hijau, efisiensi sumber daya, dan transisi energi rendah karbon. Namun, secara empiris belum terbukti mampu mencapai absolute decoupling. Mendukung dimensi SDGs Prosperity, Planet, dan Partnerships and Peace melalui kolaborasi internasional dan transfer teknologi.

3. Steady-State Economics

Berfokus pada pembatasan aktivitas ekonomi sesuai daya dukung ekologis demi keberlanjutan antar generasi. Kelemahannya adalah kurangnya inovasi teknologi dan pemahaman dinamika pembangunan di negara berkembang. Mendukung dimensi SDGs Planet dan Partnerships and Peace melalui tata kelola sumber daya alam yang adil.

4. Agrowth

Bersifat netral dengan menggeser fokus dari “pertumbuhan” menjadi kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup. Kelemahan utamanya adalah belum adanya mekanisme transisi kebijakan yang operasional.

5. Degrowth

Diyakini unggul dalam redistribusi sumber daya yang adil, demokrasi ekonomi, mengurangi tekanan ekologi, dan meningkatkan kualitas hidup. Namun, sulit diterapkan di negara yang bergantung pada pertumbuhan ekonomi. Paradigma ini mendukung dimensi SDGs People, Planet, dan Partnerships and Peace melalui demokrasi partisipatif dan keadilan sosial.

6. Doughnut Economics

Mengintegrasikan fondasi sosial dan batas ekologi planet untuk pembangunan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Kelemahannya adalah kebutuhan pengembangan indikator operasional. Paradigma ini secara luas mendukung hampir semua dimensi SDGs, namun tetap memerlukan integrasi dengan paradigma lain.

Menuju Paradigma Hibrid untuk Indonesia

Indonesia menghadapi problem struktural yang kompleks, termasuk kemiskinan ekstrem, kesenjangan, dan konflik sosial akibat perampasan sumber daya, yang berdampak pada mata pencaharian dan degradasi ekologi. Oleh karena itu, tawaran paradigma integratif-komplementer menjadi keniscayaan.

Tiga skenario paradigma “hibrid” dapat dipertimbangkan:

  1. Skenario Reformis: Didominasi ekonomi neoklasik dan green growth, dilengkapi Agrowth. Contohnya, penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam hilirisasi sumber daya pertambangan, kehutanan, perikanan, dan perkebunan.
  2. Skenario Moderat/Transformatif: Mengintegrasikan green growth dengan doughnut economics dan steady-state economics, dilengkapi Agrowth dan degrowth. Prinsip degrowth dapat diadopsi pada sektor tertentu, seperti pembatasan eksploitasi nikel di pulau-pulau kecil.
  3. Skenario Radikal/Transformasi Sistemik: Didominasi doughnut economics yang terintegrasi dengan degrowth, steady-state economics, dan Agrowth. Green growth berperan sebagai pelengkap, khususnya dalam pengembangan inovasi teknologi. Penerapan regulasi kuota ekologi untuk pembatasan eksploitasi sumber daya alam strategis juga menjadi kunci.

Pemilihan skenario yang akan diterapkan di Indonesia sangat bergantung pada kemauan politik, ideologi pembangunan, dan kebijakan ekonomi politik yang dianut.