Jurnal Indonesia — PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) terus memperkuat fondasi tata kelola perusahaan seiring upaya perseroan menangkap peluang pertumbuhan dari ekonomi hijau dan keberlanjutan. Penguatan ini tercermin dari keberhasilan MUTU meraih TOP GRC Awards 2026 dengan predikat #STAR4, serta penghargaan The Most Committed GRC Leader 2026 untuk Presiden Direktur MUTU, Arifin Lambaga.
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upaya perseroan dalam mengintegrasikan governance, risk management, and compliance (GRC) ke dalam strategi dan operasional bisnis. Bagi perusahaan testing, inspection and certification (TIC) seperti MUTU, penguatan tata kelola memiliki relevansi langsung dengan bisnis. Independensi, kualitas layanan, kepatuhan, serta keandalan proses menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan pelanggan maupun investor.
VP Corporate Communication & Investor Relations MUTU, Adam Isa, menyatakan bahwa GRC bagi perseroan bukan sekadar pemenuhan regulasi. “Bagi kami, GRC bukan sekadar pemenuhan regulasi, tetapi merupakan bagian dari cara perusahaan menjaga kualitas layanan, mengelola risiko secara prudent, serta membangun dan mempertahankan kepercayaan investor dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Adam dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).
Dia menambahkan, sebagai perusahaan terbuka, kepercayaan investor tidak hanya dibangun melalui pertumbuhan kinerja keuangan. Transparansi, akuntabilitas, kualitas pengelolaan risiko, serta konsistensi dalam menjalankan tata kelola juga menjadi faktor penting. “Kepercayaan investor pada akhirnya lahir dari konsistensi. Karena itu, kami ingin memastikan bahwa setiap pertumbuhan bisnis MUTU International selalu berjalan beriringan dengan kualitas governance, pengendalian risiko, kepatuhan, dan keterbukaan informasi,” tambahnya.
Fondasi Ekonomi Hijau
Penguatan tata kelola tersebut juga diarahkan untuk menopang ekspansi bisnis MUTU di sektor keberlanjutan. Perseroan telah mengintegrasikan risiko environmental, social, and governance (ESG) ke dalam enterprise risk management (ERM). Risiko yang diperhitungkan antara lain perubahan iklim dan regulasi, risiko reputasi terkait greenwashing, hingga keberlanjutan rantai pasok dan portofolio bisnis.
Langkah ini sejalan dengan perkembangan bisnis MUTU yang semakin terkait dengan agenda ekonomi hijau, termasuk layanan sertifikasi dan verifikasi emisi karbon, ISO 14064, ISO 14065, serta layanan yang berkaitan dengan perdagangan karbon. Dengan posisi tersebut, penguatan GRC tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengendalian risiko, tetapi juga dapat menjadi fondasi bagi perseroan untuk menangkap kebutuhan baru dari perusahaan yang tengah melakukan transisi menuju bisnis yang lebih berkelanjutan.
“Ke depan, kami melihat GRC dan sustainability akan semakin menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pertumbuhan perusahaan,” kata Adam. Dia menambahkan, menjaga kualitas juga berarti menjaga integritas proses, kualitas data, independensi layanan, serta memastikan setiap keputusan bisnis mempertimbangkan risiko dan aspek keberlanjutan.
Penguatan governance tersebut berjalan beriringan dengan perkembangan bisnis MUTU. Berdasarkan data kinerja 2023-2025 yang dipaparkan dalam materi TOP GRC Awards 2026, pendapatan perseroan meningkat dari Rp 286,7 miliar pada 2023 menjadi Rp 308,8 miliar pada 2024 dan Rp 331,4 miliar pada 2025. Dengan demikian, pendapatan MUTU tumbuh sekitar 15,6% dalam dua tahun.
Sementara itu, laba tahun berjalan tercatat Rp 30,9 miliar pada 2023, Rp 24,1 miliar pada 2024, dan Rp 24,2 miliar pada 2025. Sebagai perusahaan terbuka sejak 2023, MUTU juga menyatakan terus memperkuat kepatuhan terhadap ketentuan pasar modal dan keterbukaan informasi. Dalam pemaparan GRC, perseroan menyampaikan belum menerima sanksi atau denda dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait kepatuhan sejak menjadi emiten.
Adam menilai penghargaan TOP GRC Awards 2026 menjadi momentum bagi perseroan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kinerja dan kualitas tata kelola. “Kami percaya bahwa perusahaan yang bertumbuh secara sehat adalah perusahaan yang mampu menjaga keseimbangan antara performance dan governance. Karena itu, penghargaan ini bukan merupakan akhir, melainkan pengingat bahwa kualitas dan kepercayaan harus terus kami jaga dalam setiap tahap perjalanan pertumbuhan MUTU,” tutup Adam.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.