Jurnal Indonesia — Jakarta — Pentagon mengakui bahwa chatbot AI Grok milik xAI digunakan dalam sistem yang membantu operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Pengakuan ini termuat dalam dokumen pengadilan federal yang diajukan Departemen Kehakiman AS.
Dalam berkas itu, Pentagon menyebut Grok berperan dalam sistem yang membantu pasukan menempatkan lebih dari 2.000 amunisi ke 2.000 target berbeda dalam rentang waktu 96 jam selama operasi terhadap Iran. Pernyataan ini menjadi salah satu konfirmasi paling terbuka mengenai keterlibatan AI generatif dalam operasi tempur modern.
Pemanfaatan Melalui Sistem Analisis Intelijen
Menurut dokumen, Grok tidak secara langsung menentukan target atau mengendalikan senjata. AI tersebut diintegrasikan dalam sistem analisis intelijen yang membantu mengidentifikasi titik-titik penting berdasarkan data dari berbagai sumber, sementara analis manusia tetap memegang keputusan akhir.
Pentagon menyebut Grok sebagai salah satu model AI yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam operasi penting pada lingkungan berkategori kerahasiaan tinggi. Teknologi ini dihubungkan dengan Maven Smart System, platform berbasis AI yang dipakai badan intelijen geospasial AS untuk menyajikan informasi dan membantu evaluasi sasaran potensial.
Terungkap Lewat Gugatan Lingkungan
Keterlibatan Grok terungkap dalam konteks gugatan pencemaran lingkungan yang diajukan NAACP terhadap xAI dan anak perusahaannya, MZX Tech. Gugatan menuduh xAI mengoperasikan puluhan turbin gas di pusat data Southaven, Mississippi, tanpa memenuhi persyaratan izin yang diatur oleh Clean Air Act.
Menurut pengaduan, turbin tersebut menghasilkan emisi yang berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat sekitar. Namun Departemen Kehakiman AS meminta hakim untuk membatalkan gugatan, dengan alasan pusat data xAI memiliki peran strategis bagi keamanan nasional dan mendukung kebutuhan Pentagon dalam operasi militer.
Reaksi dan Perdebatan
Pengakuan resmi mengenai penggunaan Grok memicu perhatian publik terhadap hubungan antara perusahaan AI swasta dan sektor pertahanan. Kritikus mempertanyakan mekanisme pengawasan ketika teknologi komersial dipakai dalam operasi militer yang berisiko menyebabkan korban sipil.
Sementara itu, pendukung menilai penggunaan AI seperti Grok dapat mempercepat analisis data dalam jumlah besar dan membantu efektivitas pengambilan keputusan di medan operasi. Dokumen pengadilan menegaskan bahwa, meskipun AI memberi dukungan, analis manusia tetap terlibat dalam penentuan keputusan akhir.
Ikuti Jurnal Indonesia
