Jurnal Indonesia — Investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis, 10 September 2026, dengan saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan ISAT menjadi sasaran utama. Sebaliknya, saham di sektor pertambangan seperti ANTM, AADI, CUAN, dan PTBA justru diburu oleh investor asing.
Secara total, net sell asing di seluruh pasar mencapai Rp 1,95 triliun pada hari itu, menambah total net sell asing sepanjang tahun berjalan menjadi Rp 70,7 triliun, berdasarkan data BEI. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami net sell asing terbesar di pasar reguler, mencapai Rp 549,7 miliar. Posisi selanjutnya ditempati oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net sell Rp 218,8 miliar, diikuti oleh PT Indosat Tbk (ISAT) dengan net sell Rp 142,7 miliar.
Di sisi lain, transaksi beli bersih (net buy) investor asing paling signifikan terjadi pada saham PT Antam Tbk (ANTM) yang mencapai Rp 301 miliar. Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga diminati, dengan net buy masing-masing Rp 152,8 miliar dan Rp 146,6 miliar. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) turut mencatatkan net buy asing senilai Rp 145,79 miliar.
Pergerakan dana asing ini terjadi bersamaan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup turun 88,8 poin atau 1,3% ke level 6.589,3. Sebanyak 161 saham menguat, 543 saham melemah, dan 259 saham stagnan, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 21,3 triliun.
Seluruh sektor saham mengalami pelemahan pada penutupan pasar hari itu. Sektor energi menjadi yang paling terdampak dengan pelemahan 2%, diikuti oleh sektor transportasi (1,8%), infrastruktur (1,3%), kesehatan (1,2%), barang baku (1,19%), dan perindustrian (1,19%). Pelemahan juga terjadi di sektor properti (1,08%), barang konsumen primer (1,01%), keuangan (0,89%), barang konsumen non-primer (0,7%), dan teknologi (0,5%).
Menurut analisis Pilarmas Investindo Sekuritas, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum mereda menjadi salah satu faktor penekan pasar. Pernyataan Iran mengenai kesiapan menghadapi konflik yang lebih intens, ditambah perkiraan Presiden AS Donald Trump bahwa perang tidak akan berakhir hingga setelah pemilihan sela November, meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan aliran energi melalui Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak yang dipicu oleh situasi ini berpotensi mendorong inflasi, memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga.
Di tengah ketidakpastian global tersebut, pelaku pasar juga cenderung bersikap ‘wait and see’ menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat. Data ini dianggap sebagai indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berada di kisaran 60,2%.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.