Jurnal Indonesia — Semarang – Kasus kematian Mozza Axillia Gunarsa (17), yang sempat dilaporkan hilang setahun sebelum ditemukan tewas, menemui titik terang berkat temuan percakapan di media sosial antara korban dan pelaku, Mahendra Very Dwi Anggara (22).
Ayah Mozza, Singgih Gunarsa, menjelaskan bahwa kunci pengungkapan kasus ini didapat setelah ia berhasil mengakses tablet milik putrinya. Ia menemukan bahwa akun Instagram dan TikTok Mozza masih tersimpan di emailnya, meskipun aplikasi tersebut tidak terpasang di perangkat. Singgih kemudian berhasil memulihkan akses ke akun-akun tersebut.
“Ternyata di email itu ada akun Instagram dan TikTok-nya Mozza yang nyantol masih ada, tapi di aplikasinya tidak ada. Makanya akhirnya saya ubah semua password emailnya yang saya untuk pribadi saya sendiri,” kata Singgih saat ditemui wartawan di kediamannya.
Setelah berhasil menginstal kembali aplikasi media sosial tersebut, Singgih dapat mengakses seluruh isi pesan langsung (DM) dan percakapan teman-teman Mozza. Melalui penelusuran ini, ia menemukan komunikasi dengan tersangka.
Singgih mengungkapkan bahwa pelaku berulang kali mengajak Mozza untuk datang ke indekosnya di Candisari, Kota Semarang. Mozza sempat mengunjungi kos tersebut satu kali, dan komunikasi intensif berlanjut melalui WhatsApp.
“Terus tapi yang di DM ada, Mozza berulang kali disuruh main ke kosnya. Tapi Mozza sudah menolak. Hampir dua, hampir tiga kali Mozza disuruh ke kos, tapi Mozza menolak karena pada waktu itu Mozza sedang menyiapkan ujian di Undip,” terang Singgih.
Namun, setelah Mozza menyelesaikan ujian masuk universitas, ia akhirnya mengiyakan ajakan bertemu di kos Very pada 25 Juni 2025. Pertemuan tersebut justru berakhir tragis dengan kematian Mozza.
“Terus tanggal 25 itu mungkin kebetulan Mozza sudah selesai ini ujiannya, makanya dia mengiyakan mau main lagi ke sana dan malah yang terjadi seperti itu (dibunuh),” ungkap Singgih.
Singgih mengaku tidak mengenal pelaku pembunuhan putrinya secara pribadi. Hingga kini, ia belum pernah bertemu langsung dengan pelaku dan hanya melihat fotonya yang ditunjukkan oleh pihak kepolisian.
“Saya belum kenal sama sekali dari awal siapa beliau, kenal juga tidak. Karena kalau menurut informasi yang saya dapat dari media itu mereka baru bertemu satu bulan,” ucap Singgih.
“Waktu habis dari RS Bhayangkara, saya ke Polrestabes tapi hanya untuk bikin laporan. Saya tidak ketemu dengan pelaku, hanya ditunjukkan fotonya saja,” imbuhnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.