Jurnal Indonesia — JAKARTA – PT Pertamina (Persero) mengambil langkah inovatif dengan mengubah minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF). Inisiatif ini tidak hanya mendukung agenda transisi energi Indonesia, tetapi juga berpotensi besar menciptakan nilai tambah ekonomi serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Pengamat energi Feiral Rizky Batubara menyambut baik upaya Pertamina tersebut. Menurutnya, pemanfaatan UCO menunjukkan bahwa transisi energi dapat dimulai dari sumber daya yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Selain itu, inisiatif ini membuka peluang terbentuknya ekosistem industri baru di dalam negeri.
“Langkah Pertamina mengembangkan UCO ini menunjukkan konsistensi dalam menjalankan agenda transisi energi. Pendekatan tersebut tidak semata berbicara tentang pengurangan emisi atau pengembangan energi rendah karbon, tetapi juga bagaimana sumber energi baru dapat menciptakan nilai tambah di dalam negeri dan memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Feiral dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Feiral, yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Penasihat Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), menekankan bahwa pengolahan minyak jelantah menjadi SAF merupakan contoh konkret pemanfaatan limbah menjadi bahan baku energi bernilai tambah. Menurutnya, pengembangan energi alternatif memiliki tujuan ganda: menekan emisi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor, memperkuat industri domestik, dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Namun, Feiral mengingatkan bahwa pengembangan UCO membutuhkan ekosistem yang kuat. Hal ini mencakup sistem pengumpulan yang efisien, insentif ekonomi yang memadai, standar kualitas yang jelas, sistem traceability, hingga tata kelola yang baik untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku.
“Kalau seluruh mata rantai ini bisa dibangun di dalam negeri, maka manfaatnya jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan bahan bakar rendah karbon. Kita sedang membangun industri, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kemampuan teknologi, sekaligus memperkuat ketahanan energi,” tegas alumnus ITB tersebut.
Pertamina Membangun Rantai Pasok Minyak Jelantah
Pertamina telah merintis pemanfaatan UCO sejak tahun 2015. Pengembangan ini berlanjut melalui berbagai tahapan hingga memasuki fase uji coba yang dijadwalkan berlangsung pada periode 2021–2025.
Saat ini, kontribusi UCO dalam komposisi bahan bakar berkelanjutan masih berada di angka sekitar 1%. Meskipun tergolong kecil, angka ini dianggap sebagai pijakan awal yang penting untuk membangun rantai pasok yang lebih besar dan berkelanjutan di masa depan.
“Kalau kita mau membicarakan sustainability, kita mulai sekarang. Jangan ragu karena angkanya masih kecil. Itu adalah awal dari sebuah keberlanjutan,” ungkap Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita dalam acara Ideafest di Jakarta Convention Center, akhir pekan lalu.
Untuk memperkuat rantai pasok bahan baku SAF ini, Pertamina secara aktif melibatkan masyarakat melalui layanan U-Collect yang kini telah tersedia di 36 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Masyarakat dapat menyetorkan minyak jelantah mereka melalui sistem yang terintegrasi dengan aplikasi MyPertamina.
Minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan memiliki nilai ekonomi tersendiri. Pertamina telah menetapkan harga pengumpulan di kisaran Rp 5.000 hingga Rp 5.500 per liter, memberikan insentif bagi masyarakat yang berpartisipasi.
Pemanfaatan UCO sebagai bahan baku SAF secara efektif mengalihkan minyak jelantah yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah menjadi komponen penting dalam produksi bahan bakar penerbangan yang lebih ramah lingkungan. Pengembangan ini menunjukkan bahwa upaya Pertamina tidak hanya berhenti pada teknologi produksi SAF, tetapi juga merambah pada pembangunan rantai pasok yang melibatkan masyarakat sebagai bagian integral dari ekosistem energi berkelanjutan.
Dengan demikian, minyak jelantah memiliki potensi besar untuk bertransformasi dari sekadar limbah rumah tangga menjadi bahan baku energi bernilai ekonomi tinggi, sekaligus memberikan kontribusi signifikan bagi agenda transisi energi Indonesia.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.