Jurnal Indonesia — Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menunjukkan perubahan arah yang signifikan pada perdagangan Senin (7/9/2026), ditandai dengan catatan net sell investor asing senilai Rp 53,55 miliar. Fenomena ini terjadi setelah saham emiten perbankan tersebut secara konsisten mencatat net buy investor asing sejak 28 Agustus hingga 4 September 2026.
Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham BBRI tercatat melemah 0,59% ke level Rp 3.370. Perdagangan saham BBRI melibatkan 140,65 juta lembar dengan frekuensi sebanyak 36.257 kali, menghasilkan nilai transaksi total Rp 472,25 miliar. Meskipun demikian, dalam sebulan terakhir, saham BBRI masih menunjukkan performa positif dengan penguatan 10,86% yang didukung oleh net buy investor asing sebesar Rp 2,47 triliun.
Proyeksi Rasio Pembayaran Dividen
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diproyeksikan akan menormalkan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) menjadi sekitar 70% untuk tahun buku 2026. Angka ini merupakan penyesuaian dari rasio 92% yang dicapai pada tahun buku 2025. Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, dalam risetnya yang dikutip pada Kamis (3/9/2026), memperkirakan bahwa dalam jangka panjang, rasio pembayaran dividen BRI akan berada di kisaran 50%-60%.
Senada dengan itu, Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, juga menyoroti proyeksi dividen BBRI. Menurutnya, BRI mulai mengalihkan prioritas penggunaan laba dari pembagian dividen yang tinggi menjadi penguatan modal guna mendukung pertumbuhan bisnis. Jason memperkirakan rasio pembayaran dividen BBRI akan turun secara bertahap menuju 60% dari 92% pada tahun buku 2025.
Perubahan strategi ini perlu dilihat bersamaan dengan rencana BRI untuk kembali mendorong pertumbuhan kredit mikro. Strategi tersebut berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi perseroan untuk menahan laba dan mendanai ekspansi melalui modal internal. Jason menambahkan, bagi investor yang menjadikan BBRI sebagai saham dengan imbal hasil dividen tinggi, perubahan ini dapat mengurangi pendapatan pasif dalam jangka pendek. Namun, strategi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas modal bagi ekspansi bisnis.
Prospek Laba dan Kinerja Keuangan
Victoria menilai bahwa prospek laba BBRI akan tetap ditopang oleh pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP), peningkatan efisiensi, serta bantalan modal yang kuat. Faktor-faktor ini diyakini dapat menjaga ketahanan laba BRI, meskipun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek.
Pada kuartal II-2026, laba bersih setelah pajak (net profit after tax/NPAT) BBRI tercatat sebesar Rp 15,4 triliun. Angka ini mengalami penurunan 0,8% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq), namun menunjukkan peningkatan 22% secara tahunan (year on year/yoy).
Secara kumulatif, NPAT BBRI pada semester I-2026 mencapai Rp 30,9 triliun, tumbuh 17,5% yoy. Realisasi ini setara dengan 52% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 53% dari estimasi konsensus tahun 2026. PPOP dilaporkan naik 12,7% yoy, sementara pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) meningkat 9,9% menjadi Rp 80,5 triliun. NIM mengalami penurunan 10 basis poin menjadi 7,7%, namun masih berada dalam kisaran panduan 7,4%-7,8%.
Total kredit tumbuh 16,2% yoy dan 5,3% qoq menjadi Rp 1.645,5 triliun, melampaui panduan awal 7%-9%. Pertumbuhan kredit ini terutama didorong oleh segmen korporasi dan komersial. Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan, dengan rasio kredit bermasalah bruto (gross non-performing loan/NPL) sebesar 2,9%, sementara kredit berisiko (loan at risk/LAR) turun menjadi 9,1%.
Rekomendasi Saham BBRI
Berdasarkan berbagai pertimbangan tersebut, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham BBRI dengan target harga Rp 4.050. Target harga ini mencerminkan price to book value (PBV) sebesar 1,9 kali untuk estimasi 2026 dan 1,8 kali untuk proyeksi 2027. MNC Sekuritas menilai pertumbuhan PPOP, efisiensi yang berkelanjutan, dan modal yang kuat menjadi penopang utama ketahanan laba BBRI. Namun, risiko terhadap proyeksi tetap ada, berasal dari potensi perlambatan pertumbuhan kredit, pelemahan kondisi ekonomi makro, serta persaingan yang semakin ketat di segmen wholesale.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.