— Lonjakan biaya layanan kecerdasan buatan (AI) dari penyedia terkemuka asal Amerika Serikat membuat sejumlah perusahaan besar mempertanyakan pilihan teknologi mereka dan beralih pada model AI yang dikembangkan di China.

Perusahaan seperti DoorDash, Airbnb, dan Siemens mulai mengadopsi model AI China karena tarif lebih rendah dan kemampuan penyesuaian yang lebih besar dibandingkan layanan dari AS.

Menurut OpenRouter, platform yang menyediakan akses ke berbagai model AI sekaligus melacak penggunaannya, model AI terkemuka China besutan DeepSeek dan Z.ai telah melampaui pesaing dari AS seperti Claude (Anthropic) dan ChatGPT (OpenAI).

“Model AI China adalah the elephant in the room. Perusahaan-perusahaan mulai menyadari hei, kita tidak butuh model yang paling hebat, kita bisa menggunakan model yang lebih cepat dan lebih murah,” kata Eugene Cheah, CEO platform AI Featherless AI.

Pergeseran Persepsi di Tengah Ledakan Penggunaan

Model AI dari AS yang semula dianggap paling canggih kini menghadapi tantangan reputasi. Peluncuran GLM-5.2 dari startup China Z.ai bulan lalu memicu perhatian luas; sejumlah figur dari Silicon Valley menilai model tersebut setara atau hampir menyamai sistem AS, namun dengan biaya jauh lebih rendah.

Keberadaan model AI China yang murah muncul pada waktu krusial. Dunia korporat, yang menghabiskan tahun terakhir untuk mengintegrasikan AI demi meningkatkan produktivitas, kini merasa terbebani oleh tagihan penggunaan yang membengkak.

Satu organisasi dilaporkan menghabiskan hingga USD 500 juta dalam sebulan untuk penggunaan Claude. Meskipun itu pengecualian ekstrem, riset Ramp AI Index menemukan bahwa bisnis yang paling mengandalkan AI menghabiskan sekitar USD 7.500 per karyawan setiap bulan.

Jika perusahaan tak bersedia mengurangi intensitas penggunaan AI, pilihan lain adalah beralih ke model yang lebih murah. Salah satu pendiri DoorDash, Andy Fang, menyatakan perusahaannya menghemat banyak dengan mendelegasikan pekerjaan tingkat rendah ke model buatan startup China, Moonshot AI.

“Perusahaan terdorong mengalihkan sebagian beban kerja ke model lebih murah. Mengapa harus bayar premium untuk model Anthropic atau OpenAI, sementara untuk banyak beban kerja yang Anda butuhkan, model China umumnya sudah sangat memadai?” ujar Sam Bresnick, peneliti Center for Security and Emerging Technology.

Fleksibilitas, Kontrol Data, dan Kekhawatiran Ketergantungan

Selain biaya, alasan lain yang menarik perusahaan ke model China adalah aksesibilitas dan kemampuan kustomisasi. Fleksibilitas ini memungkinkan organisasi menyesuaikan model dengan kebutuhan spesifik dan, dari sudut pandang keamanan, memberi kontrol lebih besar terhadap bagaimana data sensitif diproses.

Di sisi lain, ada indikasi kekecewaan terhadap posisi AS dalam ekosistem AI global. Keputusan pemerintahan Donald Trump untuk menangguhkan akses luar negeri terhadap model Mythos milik Anthropic disebut-sebut memicu penurunan kepercayaan karena mengekspos risiko bergantung pada satu penyedia tunggal.

“Banyak pihak mendapati akses mereka dicabut. Ini mengekspos risiko nyata dari bergantung pada satu entitas tunggal,” kata Aidan Gomez, CEO perusahaan AI Kanada, Cohere.

Simak Video “Video MotoGP 2026: Marquez-Ogura Hantui Jorge Martin”