Jurnal Indonesia — JAKARTA – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), salah satu emiten yang terafiliasi dengan Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, diproyeksikan akan menunjukkan penguatan kinerja yang signifikan pada paruh kedua tahun 2026. Analis bahkan telah menetapkan target harga untuk saham AADI.
Perbaikan kinerja Adaro diprediksi akan didukung oleh kondisi cuaca yang lebih kondusif serta normalisasi aktivitas pertambangan. Selain itu, divestasi aset Kestrel juga berpotensi memberikan fleksibilitas kas yang lebih baik dan membuka peluang untuk pembagian dividen yang lebih besar.
Adolf RB Setiadi, analis dari KB Valbury Sekuritas, menilai bahwa momentum positif ini akan melanjutkan tren perbaikan yang telah terlihat sejak semester I-2026. Pada periode tersebut, pendapatan emiten batu bara berkode saham AADI ini dilaporkan naik 6,1% secara tahunan (yoy) menjadi US$ 2,5 miliar. Laba bersihnya pun meningkat 10,5% yoy menjadi US$ 473,8 juta.
Pencapaian ini setara dengan 46,7% dari estimasi pendapatan dan 46,4% dari estimasi laba bersih untuk keseluruhan tahun 2026. Margin laba kotor emiten tercatat membaik menjadi 30,7% dari sebelumnya 29%, sementara margin operasi naik menjadi 26,2% dari 25,4%.
“Kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) batu bara dan biaya tunai yang relatif stabil mampu mengimbangi kenaikan nisbah kupas (strip ratio),” jelas Adolf dalam risetnya yang dikutip pada Selasa (8/9/2026).
Lebih lanjut, pada kuartal II-2026, volume produksi AADI mengalami peningkatan sebesar 17,5% secara kuartalan (qoq) menjadi 17,9 juta ton. Volume penjualannya juga meningkat 22,3% qoq menjadi 18,4 juta ton. ASP batu bara naik 15,2% qoq mencapai US$ 75,6 per ton, sementara nisbah kupas tercatat turun menjadi 3,8 kali.
Perbaikan performa ini secara signifikan mendorong laba bersih AADI pada kuartal II-2026 melonjak 131,4% qoq menjadi US$ 330,7 juta. Adolf memperkirakan kinerja operasional AADI akan semakin kuat pada semester II-2026. Selain itu, divestasi Kestrel diprediksi dapat menghasilkan penerimaan awal sebesar US$ 888 juta.
Rekomendasi Saham AADI dan Target Harga
KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham AADI dengan menetapkan target harga Rp 12.800 per saham. Target harga ini dicapai melalui metode arus kas terdiskonto (discounted cash flow/DCF).
Saat ini, saham AADI diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/P/E) sebesar 4,9 kali untuk proyeksi tahun 2026. Angka ini dibandingkan dengan rata-rata historis tiga tahun sebesar 4,6 kali dan rata-rata sektor yang berada di 7,7 kali.
Target harga yang ditetapkan mencerminkan P/E sebesar 5,5 kali dan rasio EV/EBITDA sebesar 3,2 kali.
KB Valbury Sekuritas menilai bahwa valuasi Adaro Energy saat ini belum sepenuhnya mencerminkan skala bisnisnya yang struktural, potensi pemulihan operasional pada semester II, neraca keuangan yang kuat dengan posisi kas bersih US$ 189 juta pada semester I-2026, serta potensi nilai tambah dari divestasi Kestrel.
Risiko utama yang perlu diwaspadai mencakup potensi pelemahan harga batu bara, kenaikan biaya operasional, gangguan pada rantai logistik, serta kemungkinan keterlambatan dalam transaksi divestasi Kestrel.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.