Jurnal Indonesia — JAKARTA – Rumor mengenai rencana akuisisi PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, yang dikenal sebagai Haji Isam, terus menjadi sorotan pelaku pasar. Disebutkan bahwa entitas yang dikendalikan Haji Isam tengah menjajaki penawaran senilai sekitar US$ 3 miliar atau setara Rp 52,6 triliun untuk mengambil alih sekitar 62% saham emiten berkode BYAN tersebut.
Menanggapi isu ini, pengamat pasar modal Hendra Wardana mengungkapkan keraguan terhadap angka yang beredar. Ia menilai tawaran tersebut menimbulkan pertanyaan besar, mengingat kapitalisasi pasar BYAN saat ini berada di kisaran US$ 26 miliar. Secara kasar, penawaran US$ 3 miliar untuk kepemilikan mayoritas tersebut mengindikasikan valuasi perseroan hanya sekitar US$ 4,8 miliar, jauh di bawah nilai pasar yang ada.
Hendra menjelaskan bahwa kepemilikan sekitar 62% bukanlah jumlah yang kecil. Informasi sebelumnya menyebutkan bahwa Low Tuck Kwong menguasai sekitar 40,2% saham BYAN, sementara putrinya, Elaine Low, memiliki sekitar 22%. Jika transaksi ini terealisasi, ini bukan sekadar jual beli saham biasa, melainkan berpotensi mengalihkan kendali atas salah satu perusahaan batu bara terbesar dan paling bernilai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Lebih lanjut, Hendra mengingatkan bahwa nilai US$ 3 miliar yang ramai diperbincangkan belum dapat dianggap sebagai harga final. Ia menekankan bahwa struktur pembayaran, sumber pendanaan, mekanisme transaksi, hak-hak yang melekat pada saham, serta berbagai persyaratan lainnya masih bisa memengaruhi nilai ekonomi transaksi tersebut. “Angka US$ 3 miliar belum layak diperlakukan sebagai harga final. Bisa jadi yang sedang terjadi baru tahap tawar-menawar,” ujar Hendra.
Dari sisi fundamental, Bayan Resources memiliki daya tarik yang kuat berkat bisnis batu bara terintegrasi, infrastruktur logistik yang memadai, skala produksi yang besar, serta struktur biaya yang kompetitif. Kinerja keuangan perusahaan pada semester I-2026 menunjukkan pendapatan sekitar US$ 1,74 miliar dengan laba bersih US$ 416,6 juta, mengalami pertumbuhan sekitar 16,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sepanjang tahun 2025, volume penjualan batu bara BYAN mencapai sekitar 70,8 juta ton dengan produksi sekitar 68 juta ton. Hendra menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba ini menunjukkan bahwa daya tarik Bayan Resources tidak hanya bersumber dari cadangan batu bara, tetapi juga dari efisiensi produksi, infrastruktur yang dimiliki, serta kemampuan menghasilkan arus kas yang solid.
Meskipun demikian, Hendra mengimbau investor untuk tetap berhati-hati dan membedakan antara rumor dan fakta. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai tercapainya kesepakatan final terkait rencana pengambilalihan ini. Manajemen BYAN sebelumnya menyatakan tidak mengetahui adanya rencana akuisisi tersebut, namun tidak menutup kemungkinan bahwa pemegang saham pengendali dapat mempertimbangkan berbagai peluang investasi.
Oleh karena itu, Hendra berpendapat bahwa investor sebaiknya tidak menjadikan isu akuisisi ini sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi. Jika rumor mereda, pergerakan saham BYAN kemungkinan akan kembali dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental seperti volume produksi, harga jual batu bara, biaya operasional, margin keuntungan, arus kas, dan kebijakan dividen.
Saham BYAN Berpeluang Menuju Rp 15.000
Terkait perdagangan saham BYAN, Hendra masih melihat adanya potensi kenaikan dari level harga saat ini yang berkisar antara Rp 13.700 hingga Rp 13.800. “Dengan harga BYAN di kisaran Rp 13.700-13.800, saya masih melihat ruang bagi saham ini untuk bergerak menuju Rp 15.000,” ungkapnya.
Ia merekomendasikan BYAN dengan kategori *speculative buy* untuk jangka pendek hingga menengah. Target harga Rp 15.000 mencerminkan potensi kenaikan sekitar 8%-9%, asalkan sentimen pasar tetap positif dan tidak ada informasi baru yang secara tegas membantah isu akuisisi tersebut. Namun, Hendra mengingatkan bahwa risiko tetap ada. Jika rumor mereda atau negosiasi gagal, premi spekulatif tersebut berpotensi menguap dan harga saham akan kembali bergerak berdasarkan fundamental perusahaan.
Sebaliknya, jika BYAN berhasil menembus level Rp 15.000 dengan volume perdagangan yang kuat, dan diikuti dengan keterbukaan informasi resmi mengenai perkembangan transaksi, ekspektasi pasar bisa menjadi lebih agresif. “Rumor Haji Isam adalah bahan bakar tambahan. Fundamental Bayan adalah mesinnya,” pungkas Hendra.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.