— JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi akan kembali menghadapi tekanan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu, 9 September 2026. Prediksi ini muncul menyusul berbagai sentimen dari pasar global.

Pada penutupan perdagangan Selasa sore (8/9/2026), rupiah tercatat menguat tipis 8 poin atau 0,05% ke posisi Rp 17.632 per dolar AS. Penguatan ini merupakan perbaikan dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.640 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp 17.630 hingga Rp 17.670 per dolar AS untuk perdagangan hari Rabu.

Ibrahim menjelaskan bahwa sentimen eksternal yang membebani rupiah antara lain berasal dari dinamika geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan di kawasan tersebut meningkatkan risiko perlambatan pada jalur distribusi energi di Selat Hormuz.

Namun, Ibrahim juga mencatat adanya perkembangan diplomasi yang berpotensi meredakan kekhawatiran. Iran dikabarkan hampir mencapai kesepakatan dengan Oman terkait pengaturan di Selat Hormuz. “Hal ini berpotensi menyediakan mekanisme untuk meredakan gangguan pelayaran,” ujar Ibrahim.

Selain itu, rupiah juga diperkirakan tertekan menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data Indeks Harga Produsen (PPI) AS dijadwalkan keluar pada Kamis (9/9), diikuti oleh data Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat.

“Angka inflasi yang lebih tinggi akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Pasar terus memperhitungkan peluang sekitar 60% bagi kenaikan suku bunga The Fed pekan depan, yang mencerminkan dampak dari laporan *nonfarm payrolls* AS yang kuat pada pekan lalu,” beber Ibrahim.

Dari dalam negeri, meskipun cadangan devisa (cadev) Indonesia menunjukkan tren positif, rupiah diprediksi tetap tertekan. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai US$ 146,5 miliar, naik dari US$ 145,3 miliar pada akhir Juli 2026.

Posisi cadangan devisa tersebut, menurut BI, setara dengan pembiayaan impor selama 5,4 bulan atau 5,3 bulan jika ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. BI meyakini ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap terjaga, didukung oleh cadangan devisa yang memadai dan potensi aliran masuk modal asing.

“Persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik menjadi faktor pendukung aliran modal asing ke Indonesia,” pungkas Ibrahim.