— JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil berbalik menguat pada penutupan perdagangan Senin, 7 Agustus 2026, setelah sempat tertekan di awal sesi. Penguatan ini terjadi seiring dengan pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan perhatian pasar terhadap perkembangan konflik AS-Iran serta prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 2 poin atau 0,01% ke level Rp 17.640 per dolar AS. Pada pembukaan perdagangan pagi hari, rupiah sempat melemah 17 poin atau 0,1% ke level Rp 17.659 per dolar AS. Indeks dolar AS sendiri tercatat melemah 0,12% ke level 99,06.

Sebelumnya, pada perdagangan Jumat, 4 September 2026, rupiah ditutup menguat 37 poin atau 0,21% ke level Rp 17.642 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah hari ini masih dibayangi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ia merujuk pada pernyataan militer AS yang telah menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu lalu, setelah pasukan Iran menargetkan kapal-kapal Angkatan Laut AS dengan rudal balistik.

“Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pelayaran komersial dan arus energi melalui Selat Hormuz. Sekitar seperlima konsumsi minyak global biasanya melewati jalur strategis tersebut,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).

Data dari perusahaan analitik Kpler pada Senin menunjukkan, lalu lintas pelayaran turun menjadi sekitar 10 kapal pengangkut komoditas per hari, level terendah sejak Mei, akibat meningkatnya risiko keamanan yang dihadapi operator.

Lebih lanjut, Ibrahim mengemukakan bahwa dari AS, data ketenagakerjaan menunjukkan perekonomian masih mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak dari perkiraan. Lebih dari 162.000 tenaga kerja masuk ke angkatan kerja pada Agustus, jauh di atas estimasi 56.000. Angka Juli juga direvisi naik dari minus 23.000 menjadi 21.000.

Tingkat pengangguran tercatat 4,1%, lebih rendah dibandingkan proyeksi pejabat The Fed sebesar 4,5% untuk akhir tahun. Kondisi pasar tenaga kerja yang relatif kuat ini membuat perhatian pelaku pasar kembali tertuju pada aspek inflasi dalam mandat The Fed.

Oleh karena itu, data inflasi AS, terutama Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI), yang akan dirilis pekan ini menjadi sangat penting. “Jika kedua indikator tersebut menunjukkan tekanan inflasi yang masih tinggi, ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September berpotensi kembali berubah,” papar Ibrahim.

Rupiah Dibayangi Risiko Domestik

Di dalam negeri, Ibrahim menyebutkan, pergerakan rupiah pekan ini juga akan diuji oleh fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. Tantangannya tidak hanya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan stimulus moneter tidak meningkatkan volatilitas rupiah maupun mendorong keluarnya modal asing.

Ibrahim menambahkan, pasar masih mencermati dampak bencana alam yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, termasuk erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat malam, 4 September 2026.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, sebaran abu vulkanik akibat erupsi tersebut menyebabkan penundaan dan pembatalan lebih dari 1.500 penerbangan di sedikitnya delapan bandara. Kondisi ini membuat sekitar 170.000 penumpang tertahan di berbagai lokasi.

Risiko terhadap aktivitas ekonomi juga bertambah akibat pembakaran lahan gambut di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatra, serta kondisi Sungai Barito yang mengering. Gangguan ini berpotensi menghambat transportasi batu bara, mengurangi mobilitas, dan meningkatkan risiko terhadap kelancaran rantai pasok.

“Pelaku pasar akan mencermati penanganan berbagai gangguan tersebut serta menghitung potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, terutama apabila gangguan transportasi dan pembatasan aktivitas masyarakat berlangsung lebih lama,” papar Ibrahim.

Selain faktor eksternal dan bencana alam, Ibrahim menambahkan, pasar domestik juga akan menunggu sejumlah data ekonomi penting pekan ini, antara lain cadangan devisa Agustus, indeks sentimen konsumen, dan penjualan ritel Juli.

Untuk perdagangan Selasa, 8 September 2026, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.640 – 17.680 per dolar AS.