— JAKARTA – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa, 8 September 2026. Rupiah tercatat menguat 8 poin atau 0,05% ke level Rp 17.632 per dolar AS, beranjak dari penutupan sebelumnya di Rp 17.640 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa penguatan rupiah terjadi meskipun sentimen eksternal terus membayangi pasar. Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang masih tinggi menjadi salah satu faktor. Pejabat Iran baru-baru ini memperingatkan bahwa infrastruktur minyak dan gas di seluruh wilayah Teluk dapat menjadi sasaran balasan atas serangan terhadap aset-aset mereka.

“Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama bagi pasar minyak. Iran menyatakan akan memberlakukan zona pembatasan baru di Teluk serta koridor pelayaran alternatif; langkah ini memicu kekhawatiran bahwa pengetatan pengawasan maritim dapat semakin memperlambat lalu lintas kapal tanker yang melintasi jalur perairan strategis tersebut,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).

Selain itu, rupiah juga mendapatkan dorongan positif dari fokus pasar terhadap data ekonomi AS yang akan dirilis. Pasar menanti data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang dijadwalkan rilis pada Kamis (9/6), diikuti oleh data Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat.

Dari dalam negeri, penguatan rupiah didukung oleh rilis posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia. Menurut data Bank Indonesia (BI), cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai US$ 146,5 miliar, naik dibandingkan posisi akhir Juli 2026 yang sebesar US$ 145,3 miliar.

BI menjelaskan bahwa kenaikan cadangan devisa terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan BI juga berkontribusi dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.