— JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) secara mengejutkan berbalik arah dan membukukan pembelian bersih oleh investor asing senilai Rp 269,69 miliar pada perdagangan Selasa, 8 September 2026. Penguatan ini mengantarkan harga sahamnya ditutup di level Rp 6.675, naik 0,75% dari penutupan sebelumnya. Sepanjang hari, sebanyak 108,13 juta saham BBCA diperdagangkan melalui 30.114 frekuensi transaksi dengan total nilai mencapai Rp 704,51 miliar.

Perubahan tren ini kontras dengan dua hari bursa sebelumnya, di mana saham BBCA terus mengalami tren penurunan dan mencatatkan penjualan bersih oleh investor asing. Pada 4 September, saham BBCA melemah 1,11% dengan net sell asing Rp 63,59 miliar. Kondisi serupa terjadi pada 7 September, di mana saham emiten perbankan ini terkoreksi 1,12% dengan net sell asing Rp 39,25 miliar.

Meskipun demikian, dalam kurun waktu satu bulan terakhir, saham emiten yang terafiliasi dengan Grup Djarum ini tercatat menguat 4,71%. Investor asing menunjukkan minatnya dengan melakukan pembelian bersih (net buy) saham BBCA senilai Rp 2,07 triliun selama periode tersebut.

Menyikapi pergerakan saham BBCA, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga yang dipatok tinggi sebesar Rp 9.480. Target harga ini mencerminkan valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi tahun 2026, sementara saat ini saham BBCA diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali.

KB Valbury menilai bahwa kepercayaan pasar yang cenderung menurun saat ini justru membuka peluang terjadinya re-rating atau penilaian ulang valuasi saham, apabila katalis positif mulai terealisasi. Beberapa katalis yang diidentifikasi dapat mendukung saham BBCA antara lain potensi pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang lebih tinggi dari perkiraan, yang dapat memperkuat Net Interest Margin (NIM).

Faktor lain yang dipertimbangkan adalah potensi biaya kredit (cost of credit/CoC) yang lebih rendah dari perkiraan, terutama jika kebutuhan pembentukan pencadangan tetap terbatas dan kualitas aset terus membaik. Perbaikan sentimen pasar domestik dan global juga menjadi katalis penting yang diperhitungkan.

Namun, KB Valbury juga mencatat adanya sejumlah risiko yang dapat memengaruhi proyeksi kinerja BBCA. Risiko tersebut mencakup pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit yang lebih rendah dari perkiraan. Selain itu, biaya pendanaan serta CoC yang lebih tinggi dari estimasi juga berpotensi menekan kinerja perseroan. Penurunan NIM yang lebih dalam dari perkiraan juga menjadi salah satu faktor risiko yang perlu diwaspadai.

KB Valbury juga secara khusus mencermati potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagai salah satu risiko eksternal yang dapat memengaruhi proyeksi BCA.