— JAKARTA – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi salah satu emiten yang paling diminati investor asing pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Perusahaan mencatat adanya net buy investor asing senilai Rp 166,03 miliar. Harga saham BRI ditutup menguat 1,19% ke level Rp 3.410 per lembar saham.

Perdagangan saham BBRI kemarin melibatkan 148,33 juta lembar saham yang ditransaksikan sebanyak 25.348 kali, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 503,70 miliar. Perlu dicatat, sehari sebelumnya, Senin (7/9/2026), saham BBRI sempat mengalami pelemahan 0,59% dengan catatan net sell investor asing sebesar Rp 53,55 miliar.

Di sisi lain, Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diproyeksikan akan menormalkan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) menjadi sekitar 70% untuk tahun buku 2026. Angka ini mengalami penurunan dari 92% pada tahun buku 2025.

“Dalam jangka panjang, rasio pembayaran dividen BRI diperkirakan berada pada kisaran 50%-60%,” tulis analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, dalam risetnya yang dikutip pada Kamis (3/9/2026).

Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, turut menyoroti proyeksi dividen emiten berkode saham BBRI tersebut. Menurutnya, BRI mulai menggeser prioritas penggunaan laba dari pembagian dividen yang tinggi menjadi penguatan modal untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

Jason menambahkan, rasio pembayaran dividen BBRI diindikasikan akan turun secara bertahap menuju 60% dari 92% pada tahun buku 2025. Perubahan ini perlu dilihat bersamaan dengan rencana BRI untuk kembali mendorong pertumbuhan kredit mikro. Strategi tersebut berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi perseroan untuk menahan laba dan mendanai ekspansi dari modal internal.

“Bagi investor yang mengandalkan BBRI sebagai saham dengan imbal hasil dividen tinggi, perubahan tersebut dapat mengurangi pendapatan pasif dalam jangka pendek. Namun, strategi itu ditujukan untuk memberikan kapasitas modal yang lebih besar bagi ekspansi bisnis,” ujar Jason.

Victoria menilai prospek laba BBRI akan tetap ditopang oleh pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP), peningkatan efisiensi, serta bantalan modal yang kuat. Faktor-faktor tersebut dapat membantu menjaga ketahanan laba BRI, meskipun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) masih menghadapi tekanan jangka pendek.

Pada kuartal II-2026, laba bersih setelah pajak (net profit after tax/NPAT) BBRI mencapai Rp 15,4 triliun. Angka ini turun 0,8% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq), namun mengalami kenaikan 22% secara tahunan (year on year/yoy).

Secara kumulatif, NPAT BBRI pada semester I-2026 mencapai Rp 30,9 triliun, tumbuh 17,5% yoy. Realisasi tersebut setara dengan 52% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 53% dari estimasi konsensus tahun 2026.

PPOP dilaporkan naik 12,7% yoy, sementara pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) meningkat 9,9% menjadi Rp 80,5 triliun. NIM turun 10 basis poin menjadi 7,7%, namun masih berada dalam panduan 7,4%-7,8%.

Total kredit tumbuh 16,2% yoy dan 5,3% qoq menjadi Rp 1.645,5 triliun, melampaui panduan awal 7%-9%. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh segmen korporasi dan komersial.

Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah bruto (gross non-performing loan/NPL) tercatat sebesar 2,9%, sementara kredit berisiko (loan at risk/LAR) turun menjadi 9,1%.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham BBRI dengan target harga Rp 4.050. Target harga ini mencerminkan price to book value (PBV) sebesar 1,9 kali untuk estimasi 2026 dan 1,8 kali untuk proyeksi 2027.

MNC Sekuritas menilai pertumbuhan PPOP, efisiensi yang berlanjut, dan modal yang kuat menjadi penopang utama ketahanan laba BBRI. Namun, risiko terhadap proyeksi tetap datang dari potensi perlambatan pertumbuhan kredit, kondisi ekonomi makro yang melemah, serta persaingan yang semakin ketat di segmen wholesale.