— JAKARTA – Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), emiten yang terafiliasi dengan Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada perdagangan Rabu, 9 September 2026. Saham AADI sempat menyentuh level Rp 12.250.

Tiga katalis utama diyakini mendorong kenaikan signifikan ini. BRI Danareksa Sekuritas mengidentifikasi momentum harga jual dan laba yang kuat, prospek harga batu bara yang tetap mendukung, serta proses divestasi Kestrel yang berjalan sesuai rencana sebagai faktor kunci.

BRI Danareksa menilai fundamental AADI masih didukung oleh kinerja operasional pada kuartal II-2026 dan kondisi pasar batu bara yang positif. “Di saat bersamaan, transaksi divestasi Kestrel berpotensi membuka tambahan nilai bagi perseroan dan pemegang saham,” ungkap BRI Danareksa dalam ulasannya pada Rabu (9/9/2026).

Adaro Andalan Indonesia mencatatkan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) batu bara yang tetap kokoh pada kuartal II-2026 di angka US$ 75,6 per ton. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 15% secara kuartalan (qoq) dan 13% secara tahunan (yoy).

Selain itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) emiten berkode saham AADI tersebut melampaui ekspektasi, sementara biaya operasional relatif stabil. Nisbah kupas (stripping ratio), yang merupakan perbandingan material penutup yang harus dipindahkan terhadap batu bara yang ditambang, juga mengalami penurunan. Kondisi ini turut membantu mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar.

Katalis berikutnya berasal dari prospek harga batu bara. BRI Danareksa memandang kenaikan harga batu bara terkini utamanya didorong oleh kembalinya permintaan dari China dan India di pasar batu bara laut internasional. Kekhawatiran terkait ekspor juga mulai mereda, sementara aktivitas logistik AADI melalui Kelanis dilaporkan tidak terpengaruh.

Di sisi lain, divestasi Kestrel ditargetkan rampung pada akhir kuartal III-2026. Transaksi ini diperkirakan akan menghasilkan penerimaan awal bruto sekitar US$ 888 juta, ditambah potensi pembayaran bersyarat yang bergantung pada pergerakan harga. Menurut BRI Danareksa, transaksi tersebut berpotensi membuka nilai tambah signifikan sekaligus meningkatkan potensi imbal hasil bagi para pemegang saham.

Dengan mempertimbangkan sejumlah katalis positif tersebut, BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi buy untuk saham AADI dengan target harga Rp 12.400. Sementara itu, KB Valbury Sekuritas juga merekomendasikan buy dengan target harga Rp 12.800, yang didasarkan pada metode arus kas terdiskonto (discounted cash flow/DCF).

Target harga saham AADI mencerminkan valuasi Price-to-Earnings (P/E) sebesar 5,5 kali dan rasio Enterprise Value/EBITDA sebesar 3,2 kali. KB Valbury Sekuritas menilai valuasi Adaro Andalan Indonesia ini belum sepenuhnya mencerminkan skala bisnis struktural perseroan, pemulihan operasional pada semester II, neraca yang kuat dengan posisi kas bersih US$ 189 juta pada semester I-2026, serta potensi nilai tambah dari divestasi Kestrel.

Risiko utama yang perlu diwaspadai mencakup pelemahan harga batu bara, potensi kenaikan biaya, gangguan pada rantai logistik, dan kemungkinan keterlambatan dalam penyelesaian transaksi divestasi Kestrel.