Jurnal Indonesia — JAKARTA – Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel tengah diperdagangkan pada valuasi yang menarik. Perusahaan ini mencatatkan rasio Price-to-Earnings (PER) hanya 4,8 kali, yang berada 1,6 standar deviasi di bawah rata-rata historisnya. Kondisi ini membuka potensi keuntungan yang signifikan bagi investor, didorong oleh tingginya harga nikel global dan efisiensi biaya produksi yang dimiliki perusahaan.
Analis dari Citi menaikkan proyeksi pendapatan NCKL untuk tahun 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 11% dan 13%. Peningkatan ini didasari oleh agenda ekspansi yang dijalankan oleh anak usaha perusahaan, lonjakan harga bijih nikel, serta harga nickel pig iron (NPI). Kenaikan tersebut diproyeksikan mampu mengompensasi peningkatan biaya operasional akibat lonjakan biaya energi dan royalti.
Meskipun demikian, proyeksi laba bersih NCKL sedikit dipangkas oleh Citi, sebesar 5% untuk 2026 dan 7% untuk 2027. Pemangkasan ini disebabkan oleh tekanan margin pada bisnis Hydrometallurgical Processing (HPAL) yang dipicu oleh tingginya harga sulfur. Namun, bisnis kobalt diharapkan dapat memberikan kontribusi positif untuk menahan potensi penurunan pada segmen ini.
Dalam risetnya, Citi juga menaikkan proyeksi harga nikel di London Metal Exchange (LME) untuk tahun 2026 menjadi US$17.400 per ton, dari sebelumnya US$17.000 per ton. Namun, untuk tahun 2027, proyeksi harga nikel diturunkan dari US$17.500 menjadi US$17.000 per ton.
Citi memberikan rekomendasi ‘buy’ untuk saham NCKL dengan target harga baru sebesar Rp1.750 per saham, turun dari target harga sebelumnya Rp1.900. Analis menilai NCKL sebagai pemimpin industri dengan biaya yang kompetitif, yang berpotensi menghasilkan keuntungan lebih baik dibandingkan para pesaingnya. Dengan target harga tersebut, potensi keuntungan saham NCKL ditambah dengan estimasi yield dividen mencapai 88%.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.