— JAKARTA – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mendesak Pemerintah Aceh serta pemerintah kabupaten/kota untuk segera merealisasikan tambahan Transfer ke Daerah (TKD) senilai Rp1,652 triliun. Percepatan ini krusial agar anggaran yang dialokasikan dapat segera diwujudkan menjadi program pemulihan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak bencana.

Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Safrizal ZA, menyatakan pihaknya akan memantau langsung perkembangan penyerapan anggaran di setiap daerah. Hasil pemantauan ini akan disampaikan secara terbuka kepada publik mulai Senin depan sebagai bagian dari upaya menjaga percepatan, transparansi, dan akuntabilitas.

“TKD kita sudah minta kepada pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, untuk sesegera mungkin direalisasikan. Kami akan monitor angka serapannya dan nanti kami umumkan hari Senin agar terus ter-update,” kata Safrizal dalam keterangannya, Sabtu (25/7/2026). Pernyataan ini disampaikan usai konferensi pers perkembangan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Banda Aceh, Jumat (24/7).

Safrizal menjelaskan bahwa Ketua Satgas PRR yang juga Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, telah memimpin beberapa rapat khusus untuk memastikan tambahan TKD tersebut segera digunakan sesuai kebutuhan daerah. Pemantauan tidak hanya mencakup kelengkapan administrasi, tetapi juga pelaksanaan kegiatan dan manfaatnya bagi proses pemulihan.

Dari total tambahan TKD sebesar Rp1,652 triliun, Pemerintah Provinsi Aceh mendapatkan alokasi sebesar Rp824,82 miliar. Sementara itu, Rp827,26 miliar lainnya dialokasikan kepada pemerintah kabupaten/kota. Sejumlah kabupaten/kota di Aceh juga menerima bantuan keuangan melalui skema hibah antar-daerah untuk mendukung proses pemulihan.

Berdasarkan pemetaan penggunaan anggaran, sektor infrastruktur menjadi penerima porsi terbesar dengan sekitar Rp972,92 miliar. Selanjutnya, sekitar Rp361,62 miliar diarahkan untuk urusan lainnya, Rp194,93 miliar untuk pendidikan, Rp60,43 miliar untuk pertanian, dan Rp39,31 miliar untuk kesehatan.

Besarnya porsi anggaran untuk infrastruktur mencerminkan kebutuhan daerah dalam memulihkan konektivitas dan pelayanan dasar masyarakat. Anggaran tersebut akan mendukung pembangunan maupun rehabilitasi jalan, jembatan, irigasi, kawasan permukiman, serta prasarana lainnya sesuai rencana dan kewenangan masing-masing pemerintah daerah.

Seluruh rencana kegiatan yang akan dibiayai melalui tambahan TKD telah dimasukkan ke dalam APBD daerah. Pemerintah Aceh juga telah menetapkan Pergub Aceh Nomor 10 Tahun 2026 sebagai dasar penyesuaian penggunaan anggaran. Fokus selanjutnya adalah mempercepat pelaksanaan kegiatan di lapangan.

“Kegiatan apa yang akan dilaksanakan juga sudah semuanya tertulis, sudah masuk ke dalam APBD, dan tinggal dilaksanakan. Nanti hari Senin kami akan umumkan progres masing-masing berdasarkan rencana yang akan dilakukan oleh masing-masing kabupaten/kota dan provinsi,” ujar Safrizal.