Jurnal Indonesia — MEDAN – Febiona Purba (16), seorang siswi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi Febiona memburuk hingga diduga mengalami gangguan ingatan usai menjalani perawatan di rumah sakit.
Ayah Febiona, Elvinus Lusiana Sitanggang (49), menceritakan bahwa gangguan ingatan pada anaknya mulai terlihat setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. “Pas awal dirawat itu belum (ada gangguan ingatan). Selama pulang dari Rumah Sakit Umum masih biasa, normal. Tapi setalah sampai di rumah, dia kejang, kami bawa ke RS Haji, di situlah dia mulai omongannya udah kayak anak-anak,” ujar Elvinus.
Elvinus menambahkan, Febiona sempat tidak mengenali orang-orang terdekatnya, termasuk keluarga dan teman sekolahnya. “Contohnya ibaratnya keluarga. Bibinya kalau datang, “Ini siapa?” katanya. Jadi kami kasih tahu, “Ini Bibi.” “Oh, Bibi.” “Ini siapa?” Suami Bibinya, “Ini Kila ndu, nakku,” kami bilang. “Oh, Kila.” Ya gitu-gitu aja ingatannya gitu,” jelas Elvinus.
Pihak keluarga mengaku tidak mendapatkan penjelasan mengenai gangguan ingatan Febiona sejak awal. Penjelasan baru diterima saat Febiona menjalani rawat inap. “Cuman di Rumah Sakit Haji hari itu gini katanya kan pindah ruangan, dibilangnya otaknya itu memang ada (terkena) gara-gara racun itu, katanya. Jadi sebenarnya ini dari ruang PICU juga udah ada, kenapa nggak dilaporkan sama kami. Jadi, ya kami mana tahu,” ungkap Elvinus.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumut Wilayah IV, Zulkarnain Barus, menyatakan telah menerima informasi mengenai kondisi Febiona dari kepala sekolah.
“Ya, saya baru konfirmasi kepada kepala sekolah kita. Laporan kepala sekolah kemarin dibawa ke Rumah Sakit Adam Malik Medan untuk dilakukan EEG,” ujar Zulkarnain.
Zulkarnain mengaku prihatin dengan kondisi siswi tersebut dan menegaskan bahwa Dinas Pendidikan terus berkoordinasi dengan pihak sekolah. Tujuannya agar Febiona dapat segera kembali bersekolah setelah kondisinya pulih. “Tadi kita sampaikan ke sekolah agar selalu berkoordinasi dengan orang tua, apabila anak kita sudah siap untuk bersekolah kita akan bantu fasilitasi sebaik mungkin. Kita sangat prihatin dengan kondisi anak kita ini,” tutupnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.