Jurnal Indonesia — Harga tembaga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di London Metal Exchange (LME). Lonjakan ini didorong oleh reli yang berlangsung selama beberapa pekan, dipicu kekhawatiran mengenai kemungkinan perluasan tarif impor logam olahan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Kontrak berjangka tembaga LME untuk pengiriman tiga bulan sempat melonjak 0,8% menjadi US$ 14.533 per ton. Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang dicetak pada Januari 2026. Harga tembaga kemudian tercatat naik 0,7% menjadi US$ 14.513 per ton.
Kenaikan harga tembaga sekitar 17% dalam setahun terakhir tidak terlepas dari ketidakseimbangan struktural antara pasokan dan permintaan. Tambang-tambang besar dunia yang semakin menua kesulitan mengejar pertumbuhan kebutuhan tembaga untuk pusat data, energi terbarukan, dan jaringan listrik.
Namun, dalam jangka pendek, perhatian pasar lebih terfokus pada dampak kebijakan tarif AS. Ratusan ribu ton tembaga telah dikirim ke AS sepanjang tahun ini oleh para pedagang yang memanfaatkan perbedaan harga tembaga yang lebih tinggi di pasar domestik AS dibandingkan pasar global.
Pasar masih memperhitungkan kemungkinan penerapan tarif terhadap impor tembaga primer. Kondisi ini terjadi hampir dua bulan setelah Departemen Perdagangan AS seharusnya menyampaikan laporan kepada Gedung Putih mengenai kebijakan tarif tersebut.
Meskipun total persediaan tembaga global masih relatif tinggi, stok kini terkonsentrasi di AS. Sebaliknya, persediaan yang tersimpan dalam jaringan gudang LME di berbagai negara terus menyusut. Kondisi ini mengurangi ketersediaan tembaga dalam jangka pendek, menekan pelaku pasar yang memiliki posisi jual (short position), dan turut mendorong harga menembus rekor baru meskipun permintaan secara umum masih relatif lesu.
Lonjakan harga juga terjadi di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dan geopolitik, mulai dari konflik di Iran hingga kenaikan biaya pinjaman di AS yang berpotensi menekan industri manufaktur padat modal di berbagai negara.
Harga tembaga yang terlalu tinggi juga berisiko menekan permintaan karena konsumen dapat beralih ke material alternatif. Namun, sejauh ini tekanan dari sisi permintaan belum mampu menghentikan reli harga tembaga.
Pasokan Menjadi Sorotan
Rekor pengiriman tembaga ke AS terutama dipicu oleh tingginya premi kontrak berjangka tembaga di bursa Comex New York dibandingkan pasar global. Kondisi ini menciptakan peluang arbitrase besar bagi pedagang sejak Trump secara resmi mengusulkan tarif tembaga pada Februari 2025.
Aktivitas tersebut turut menguras persediaan tembaga global. Tekanan mencapai puncaknya pada bulan lalu ketika terjadi squeeze besar di LME setelah stok yang menjadi dasar perdagangan kontrak tembaga turun ke level yang sangat rendah.
Meski pengiriman baru mulai meredakan tekanan tersebut, harga tembaga untuk pengiriman segera (spot) masih berada jauh di atas kontrak tiga bulan di LME. Kondisi ini dikenal sebagai backwardation, yang menjadi sinyal bahwa permintaan jangka pendek lebih besar dibandingkan pasokan yang tersedia.
Harga tembaga yang lebih tinggi menjadi keuntungan besar bagi perusahaan tambang terbesar dunia. Sejumlah perusahaan bahkan telah lama meningkatkan eksposur terhadap tembaga karena melihat prospek lonjakan permintaan dalam jangka panjang.
Rio Tinto, BHP Group, Glencore, dan Zijin Mining mencatat kenaikan laba yang signifikan dalam laporan keuangan terbaru, salah satunya ditopang kinerja bisnis tembaga.
Namun, sejumlah perusahaan tambang besar masih menghadapi tantangan operasional. Pengiriman tembaga dari Chile, salah satu produsen utama dunia, turun ke level terendah dalam lebih dari satu tahun pada Agustus meskipun harga tembaga terus melonjak.
Reli tembaga tersebut terjadi di tengah aktivitas perdagangan yang relatif sepi karena bursa AS tutup memperingati libur Labor Day. Kondisi ini turut menekan selera risiko di pasar keuangan global.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.