— Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan ketahanan energi dan pangan harus dipandang sebagai investasi strategis untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Ia mengaitkan penguatan ketahanan dengan penerapan pembangunan berkelanjutan dan amanat Pasal 33 UUD 1945.

Pernyataan itu disampaikan Eddy saat memberikan keynote speech pada Indonesia Youth SDGs Summit 2026 bertema “Next-Gen Solutions for Energy and Food Security” yang diselenggarakan Universitas Bakrie, Minggu (5/7/2026).

Dampak Krisis Iklim dan Geopolitik

Eddy mengatakan dunia saat ini menghadapi tantangan dari krisis iklim dan meningkatnya ketegangan geopolitik, yang berdampak pada ketahanan energi, rantai pasok global, dan stabilitas ekonomi. Menurutnya, pengalaman bencana terkait perubahan iklim menunjukkan besarnya biaya ekonomi jika pembangunan tidak memperhatikan aspek keberlanjutan.

Untuk itu, ia menekankan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) perlu diposisikan sebagai instrumen pembangunan nasional yang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

Ketergantungan Impor dan Transisi Energi

Eddy menyoroti dampak konflik geopolitik, khususnya di Timur Tengah, terhadap pasokan energi dunia. Ia menyebut ketergantungan Indonesia pada impor minyak dan LPG masih menjadi tantangan serius bagi ketahanan nasional.

“Paradoksnya, Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya energi, namun masih sangat rentan terhadap gejolak pasokan global. Ketahanan energi harus menjadi bagian dari strategi ketahanan nasional sehingga kita tidak terus bergantung pada dinamika geopolitik internasional,” ujar Eddy.

Ia mengusulkan agar transisi energi dilaksanakan secara realistis dan bertahap, menolak pendekatan yang hanya berorientasi pada pengurangan energi fosil tanpa mempertimbangkan kebutuhan pembangunan nasional.

“Indonesia memerlukan transisi energi yang berkeadilan. Energi baru terbarukan harus terus dipercepat, tetapi pada saat yang sama kita tetap membutuhkan gas sebagai bridging fuel, peningkatan eksplorasi energi domestik, pengembangan bioenergi, hingga pemanfaatan teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS),” jelas Eddy.

Prioritas Penguatan Ketahanan Energi

Eddy merinci tiga prioritas penguatan ketahanan energi nasional. Dalam jangka pendek, pemerintah perlu memperkuat kapasitas kilang nasional, mempercepat elektrifikasi, serta melakukan substitusi energi untuk mengurangi ketergantungan impor.

Untuk jangka menengah, ia menyarankan optimasi pengembangan bioenergi yang memanfaatkan keunggulan nasional seperti biodiesel, bioetanol, biogas, hingga Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Dalam jangka panjang, Eddy menyebut pengembangan energi baru seperti hidrogen dan pembangkit listrik tenaga nuklir perlu dipersiapkan sebagai bagian dari strategi menuju net-zero emissions.

Peran Generasi Muda

Eddy mengajak generasi muda mengambil peran aktif dalam transformasi energi dan pembangunan berkelanjutan. Ia menilai inovasi, riset, kewirausahaan hijau, dan kepemimpinan generasi muda akan menentukan keberhasilan pencapaian target SDGs.

“Anak-anak muda adalah aktor utama yang akan menentukan arah pembangunan Indonesia. Inovasi, riset, kewirausahaan hijau, dan kepemimpinan generasi muda akan menjadi faktor penentu keberhasilan Indonesia mencapai target pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Penutup

Di akhir sambutannya, Eddy menegaskan Indonesia seharusnya tidak sekadar mengikuti agenda transisi energi global, tetapi menjadi pembentuk kebijakan. “Kita harus menjadi policy shaper, bukan sekadar policy taker. Indonesia memiliki sumber daya alam, potensi energi terbarukan, dan modal demografi yang sangat besar,” pungkasnya.

Acara tersebut dihadiri tokoh lingkungan hidup Prof. Emil Salim, Rektor Universitas Bakrie Prof. Sofia Alisjahbana, serta para akademisi, mahasiswa, dan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia.