— Jakarta – Wali Kota Jakarta Timur Munjirin menyatakan keprihatinan atas minimnya pegiat lingkungan yang aktif menjaga kawasan bantaran Kali Ciliwung. Ia menyerukan agar lebih banyak warga tergerak untuk berpartisipasi dalam upaya pelestarian sungai.

Pernyataan ini disampaikan Munjirin saat membuka Festival Condet Ciliwung di Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Sabtu (25/7/2026). Ia memberikan apresiasi tinggi kepada komunitas yang dipimpin oleh Ahmad Maulana, atau yang akrab disapa Bang Lantur, atas dedikasinya dalam menjaga kebersihan Kali Ciliwung.

“Tentunya saya selaku Pemerintah Kota Jakarta Timur mengapresiasi kegiatan seperti ini, di mana untuk melestarikan alam, untuk mencari sosok seperti Bang Lantur ini sekarang sudah jarang yang pada mau,” ujar Munjirin.

Saat ini, terdapat sekitar 12 kelompok pegiat lingkungan yang beroperasi di sepanjang Kali Ciliwung, mencakup wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Namun, Munjirin berharap jumlah ini dapat terus meningkat demi memperkuat upaya penyelamatan sungai.

“Mudah-mudahan banyak yang tergugah lagi untuk bersama-sama dengan Bang Lantur menggerakkan tentang lingkungan hidup, khususnya yang ada di pinggir Kali Ciliwung ini,” harapnya.

Munjirin mengamati bahwa kebiasaan masyarakat membuang sampah ke Kali Ciliwung secara perlahan mulai menunjukkan perubahan positif. Ia mengaitkan perubahan ini dengan peran aktif komunitas lingkungan yang terus-menerus mengedukasi masyarakat.

“Banyak sekali penggiat-penggiat penyelamat lingkungan yang bergerak bersama-sama untuk menyelamatkan kali kita agar tidak menjadi tempat pembuangan sampah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Munjirin mengingatkan masyarakat mengenai kewajiban penerapan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang gerakan pilah sampah. Mulai 1 Agustus mendatang, Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang hanya akan menerima sampah residu.

Oleh karena itu, warga diimbau untuk mulai memilah dan mengelola sampah dari sumbernya di rumah. Sampah organik direkomendasikan untuk diolah melalui metode biopori, komposter, atau budidaya maggot. Sementara itu, sampah anorganik dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dapat disalurkan melalui bank sampah.

“Kalau sudah semuanya warga atau RT menjalankan ini semuanya, saya yakin kita bisa melihat Kali Ciliwung tidak menjadi tempat sampah yang panjang dan besar lagi. Tapi kita akan lihat menjadi tempat yang cukup indah untuk kita nikmati ketika kita hidup maupun nanti anak cucu kita,” Munjirin menambahkan.

Ia berharap Festival Condet Ciliwung dapat terus berkembang menjadi wadah edukasi yang efektif bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, terutama di kawasan sungai.

“Saya mohon masyarakat semuanya agar ikut serta mendukung kelancaran penyelamatan lingkungan. Mudah-mudahan festival ini makin tahun makin berkembang, makin ramai, sehingga makin banyak yang berkunjung dan makin tahu tujuan daripada penyelamatan lingkungan di pinggir Kali Ciliwung ini,” tutupnya.