— Gunungkidul – Musim kemarau kembali memaksa warga di perbukitan Dusun Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, untuk berjuang mendapatkan air bersih. Mereka harus menempuh perjalanan naik turun bukit sejauh dua kilometer sebanyak lima kali dalam sehari untuk mengambil air dari mata air Kali Wonosari.

Mata air Kali Wonosari, meskipun tidak jernih, menjadi tumpuan utama warga ketika musim kemarau tiba. Aktivitas mengambil air yang dikenal dengan sebutan ‘ngangsu banyu’ ini telah menjadi kebiasaan turun-temurun. Di lokasi mata air, terdapat pula dua bilik mandi darurat dari semen tanpa atap yang mengharuskan warga menimba air untuk kebutuhan mandi.

Warga rela antre dan bahkan memodifikasi kendaraan mereka demi mengangkut jeriken air. Sebagian warga lainnya memilih menggendong galon menggunakan kain batik panjang. Wiwin (30), salah seorang warga, tampak menggendong galon bekas air mineral menggunakan jarik sambil menuruni tebing menuju sumber air. Ia mengisi galon dari kubangan kecil yang tersedia.

“Sudah dari dulu, sejak zaman nenek moyang, warga di sini ngangsu banyu karena setiap musim kemarau air pasti susah,” kata Wiwin. Ia mengaku sudah bolak-balik hingga lima kali sehari dari rumah menuju mata air Kali Wonosari sejak Mei 2026. Ia biasanya berangkat pukul 05.00 WIB untuk mengambil air yang digunakan untuk memasak dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Wahyu (34), warga Dusun Duwet lainnya, juga menggantungkan kebutuhan air keluarganya pada mata air tersebut. Ia bergantian mengantre bersama warga lain sambil membawa dua jeriken berkapasitas masing-masing 30 liter, yang diangkut menggunakan motor yang bagian belakangnya telah dimodifikasi. Menurut Wahyu, aktivitas ‘ngangsu banyu’ ini hanya dilakukan saat musim kemarau. Saat musim hujan, kebutuhan air warga umumnya tercukupi dari penampungan air hujan yang dimiliki hampir setiap rumah.

Dampak kekeringan juga dirasakan oleh sebagian besar desa di Kapanewon Tepus. Warga memanfaatkan mata air yang masih tersisa sebelum benar-benar mengering. Di beberapa wilayah, jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) belum menjangkau seluruh permukiman, sehingga sebagian warga terpaksa membeli air bersih dari penyedia jasa truk tangki.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus berupaya menangani dampak kekeringan. Kepala BPBD Gunungkidul Purwono menyatakan pihaknya telah menyalurkan 636 ribu liter air bersih ke berbagai daerah terdampak. “Itu baru dari BPBD. Dropping air juga dilakukan oleh pemerintah kapanewon masing-masing, tetapi datanya belum seluruhnya kami terima,” katanya.

Menurut Purwono, Kapanewon Tepus menjadi wilayah yang paling terdampak kekeringan, disusul Kapanewon Rongkop. Khusus di Tepus, BPBD telah mendistribusikan 40 tangki air bersih dan kini masih menunggu usulan tambahan untuk penyaluran berikutnya. “Kami masih menunggu usulan dari Tepus,” ujarnya.