— PROBOLINGGO – Sekitar 80% penghuni Rusunawa Bestari, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Jawa Timur, dilaporkan mengalami kenaikan status desil menjadi 6 hingga 10. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena Rusunawa Bestari dirancang khusus bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), dan kenaikan status desil dapat mengancam akses warga terhadap program bantuan sosial dari pemerintah.

Mayoritas warga Rusunawa Bestari sebenarnya tidak memiliki rumah atau tanah sendiri. Mereka menggantungkan hidup pada pekerjaan dengan penghasilan yang tidak menentu, seperti pemulung, buruh tani, nelayan, pedagang kecil, hingga pekerja serabutan. Rusunawa Bestari saat ini dihuni oleh sekitar 100 kepala keluarga.

Banyak warga mengaku perubahan status desil ini terjadi setelah adanya pendataan ekonomi yang dilakukan beberapa waktu lalu. Kenaikan status desil memicu kekhawatiran warga karena status tersebut sangat menentukan kelayakan mereka untuk menerima berbagai program perlindungan sosial dan bantuan dari pemerintah.

Salah seorang penghuni, Tutik Widyastuti (60), mengungkapkan kebingungannya atas kenaikan status desil yang dialaminya. Setiap hari, Tutik berjualan sayur keliling dengan berjalan kaki dari satu blok ke blok lainnya di area rusunawa. Penghasilannya per hari hanya berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu.

“Saya jualan sayur keliling, jalannya kaki. Penghasilannya paling sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu sehari. Saya juga tidak tahu kenapa status desil saya bisa naik,” ujar Tutik.

Tutik menambahkan bahwa kondisi ekonomi keluarganya masih sangat terbatas. Penghasilan tersebut harus diprioritaskan untuk kebutuhan makan sehari-hari bersama suaminya. Ia bahkan harus menghemat persediaan beras agar cukup untuk beberapa hari.

“Beras satu kilo bisa untuk beberapa hari. Yang penting cukup untuk makan. Kalau tidak jualan, ya tidak punya uang,” tuturnya.

Keluhan serupa juga datang dari penghuni lain yang belum mengetahui status desil mereka. Joko Slamet (48), seorang pengayuh becak, mengaku penghasilannya sangat bergantung pada jumlah penumpang.

“Saya sehari-hari mengayuh becak. Kalau ada penumpang ya dapat uang, kalau tidak ada ya tidak dapat. Selama ini saya juga belum pernah merasakan bantuan sosial,” ungkap Joko.

Joko menjelaskan bahwa penghasilannya terkadang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan membayar sewa rusunawa. Kesulitan ekonomi membuatnya juga sulit memenuhi kebutuhan lain, termasuk membayar tagihan air.

“Untuk makan saja kadang pas-pasan. Bayar air juga tidak mampu,” katanya.

Ketua RW 17 yang membawahi lingkungan Rusunawa Bestari, Rusdi Hamzah, membenarkan keluhan warga mengenai perubahan status desil. Menurutnya, banyak warga mempertanyakan kenaikan status tersebut karena kondisi kehidupan mereka dinilai tidak mengalami perubahan signifikan.

“Banyak warga yang mengeluhkan status desilnya naik setelah pendataan. Padahal kondisi mereka sehari-hari masih seperti ini, penghasilannya juga tidak tetap,” kata Rusdi.

Rusdi juga menyebutkan dampak kenaikan status desil terhadap jumlah warga yang masih menerima bantuan sosial. Saat ini, hanya sekitar 15 warga di lingkungannya yang masih terdata sebagai penerima bantuan sosial, padahal sebelumnya jumlahnya lebih banyak.

“Sebelumnya penerima bantuan lebih banyak. Sekarang yang masih menerima sekitar 15 warga. Karena itu warga berharap ada pengecekan lagi,” ujarnya.

Warga Rusunawa Bestari berharap pemerintah dapat melakukan verifikasi dan pendataan ulang secara lebih teliti dengan melihat kondisi ekonomi masyarakat secara langsung di lapangan. Mereka menekankan bahwa data desil sangat menentukan akses terhadap program perlindungan sosial, dan berharap masyarakat yang benar-benar membutuhkan tidak kehilangan haknya karena perubahan status desil semata.