— Artificial intelligence (AI) kini bertransformasi dari sekadar alat bantu menjadi bagian integral dari alur kerja sehari-hari melalui konsep AI Agent. Founder dan CEO KomuniTech, Robbie Jeo, memperkenalkan istilah “Karyawan AI” untuk menggambarkan agen AI yang dibekali peran, instruksi, akses terhadap berbagai perangkat lunak (tools), dan alur kerja spesifik. Kemampuan ini memungkinkan AI Agent untuk beroperasi secara semi-otonom, layaknya seorang karyawan digital, dalam menangani berbagai tugas.

Tugas yang dapat diemban oleh AI Agent mencakup layanan pelanggan, tindak lanjut (follow-up), pembuatan konten, riset, administrasi, hingga beragam proses bisnis lainnya. “Indonesia tidak kekurangan orang yang sudah pernah mencoba AI. Tantangan berikutnya adalah bagaimana AI benar-benar masuk ke dalam workflow dan membantu pekerjaan sehari-hari,” ujar Robbie dalam keterangan tertulisnya, Kamis (10/9/2026).

KomuniTech mengamati bahwa penggunaan AI memasuki fase baru. Jika gelombang awal ditandai dengan maraknya penggunaan chatbot seperti ChatGPT, fase berikutnya berfokus pada kemampuan memberikan AI tujuan, peran, instruksi, workflow, akses ke tools, dan konteks kerja agar dapat menjalankan serangkaian tugas secara lebih mandiri. “Inilah pergeseran dari sekadar menggunakan AI menuju bekerja bersama AI Agent, di mana AI tidak hanya menghasilkan jawaban, tetapi dapat membantu mengeksekusi pekerjaan berdasarkan alur yang telah ditentukan,” jelas Robbie.

Bagi pelaku usaha, profesional, freelancer, maupun kreator, AI Agent dan workflow automation menawarkan solusi untuk menangani pekerjaan yang bersifat repetitif. Ini meliputi layanan pelanggan, follow-up, riset, administrasi, pengolahan informasi, dan produksi konten. “Dengan memindahkan sebagian pekerjaan rutin kepada AI, manusia dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk pengambilan keputusan, kreativitas, komunikasi, dan pekerjaan strategis,” ungkap Robbie.

Robbie menegaskan bahwa KomuniTech tidak memposisikan AI Agent sebagai pengganti manusia. Sebaliknya, AI Agent dipandang sebagai lapisan produktivitas baru dalam kolaborasi antara manusia dan AI (human-AI collaboration). AI unggul dalam menangani tugas yang terstruktur dan repetitif, sementara manusia tetap memegang kendali atas keputusan, pengawasan, kreativitas, dan tanggung jawab akhir dari hasil pekerjaan. “Ke depan, kemampuan sekadar menggunakan AI tidak lagi cukup. Sama seperti internet dan smartphone dulu, AI akan jadi bagian dari cara kita bekerja. Bedanya, sekarang teknologi ini mulai bisa menjalankan pekerjaan, bukan cuma memberikan informasi,” papar Robbie.

Workshop AI Agent Dorong Adopsi

Untuk mendorong adopsi teknologi ini, KomuniTech telah menyelenggarakan 10 batch workshop AI Agent secara daring. Setiap sesi workshop terbukti diminati, dengan rata-rata lebih dari 80 peserta per sesi. Hingga September 2026, lebih dari 800 peserta telah mengikuti workshop ini.

Berbeda dengan kelas AI konvensional yang cenderung berhenti pada teori atau trik prompt, workshop KomuniTech dirancang dengan pendekatan hands-on. Peserta dibimbing secara langsung untuk memahami cara kerja AI Agent, mengidentifikasi pekerjaan yang dapat diotomatisasi, menyusun instruksi dan workflow, menghubungkan AI dengan tools yang relevan, hingga membangun AI Agent pertama yang siap digunakan dalam aktivitas nyata. Pendekatan ini dirancang agar dapat diakses oleh siapa saja, tanpa memerlukan latar belakang teknis atau kemampuan coding, termasuk bagi mereka yang baru memulai mempelajari AI automation dan no-code AI.

“Target kami bukan agar peserta pulang hanya dengan tahu lebih banyak soal AI. Kami ingin mereka pulang membawa sesuatu yang sudah mereka bangun sendiri, satu AI Agent yang benar-benar mulai bekerja untuk mereka,” terang Robbie.

Lebih lanjut, Robbie menjelaskan bahwa Workshop AI Agent merupakan bagian dari visi besar KomuniTech untuk membantu satu juta orang Indonesia menguasai AI Agent. Salah satu hambatan utama dalam adopsi teknologi baru adalah persepsi bahwa teknologi tersebut terlalu teknis, mahal, atau hanya relevan bagi perusahaan besar. “Lewat metode belajar yang praktis dan berbasis use case nyata, KomuniTech ingin memperkecil jarak itu, agar AI Agent bisa dipahami dan digunakan lebih banyak orang,” kata Robbie.

Setelah menyelesaikan 10 batch awal, KomuniTech berencana untuk terus memperluas program edukasi, membangun komunitas, mengumpulkan kumpulan use case, serta mengembangkan ekosistem pembelajaran seputar AI Agent. Visi utamanya adalah tidak hanya membuat lebih banyak orang Indonesia memahami AI, tetapi juga membantu mereka membangun dan bekerja secara efektif bersama AI mereka sendiri. Workshop 2 Jam Bikin AI Agent digelar rutin setiap bulan secara daring melalui Zoom dan terbuka untuk umum tanpa syarat kemampuan teknis. Informasi mengenai jadwal batch terdekat dan pendaftaran tersedia melalui kanal resmi KomuniTech.