— Meta secara resmi memperkenalkan asisten kecerdasan buatan (AI) terbarunya yang diberi nama Muse. Agen AI ini dirancang untuk beroperasi secara mandiri, mampu menjalankan berbagai tugas mulai dari mengirim surel, menjual mobil, hingga memesan tiket perjalanan atas nama pengguna. Peluncuran ini dilakukan di tengah kekhawatiran internal mengenai potensi pengolahan data pribadi yang belum sepenuhnya stabil.

Muse, yang sebelumnya dikenal secara internal sebagai Hatch, merupakan pilar utama dari strategi CEO Meta Mark Zuckerberg untuk menyediakan layanan AI personal bagi miliaran pengguna harian. Langkah ini sejalan dengan upaya Meta untuk memperluas sumber pendapatan di luar sektor iklan, sekaligus memaksimalkan investasi besar pada infrastruktur AI yang diperkirakan mencapai lebih dari US$ 130 miliar pada tahun ini.

Pada tahap awal, Muse baru tersedia bagi pengguna di Amerika Serikat (AS) melalui aplikasi mandiri dan platform pesan WhatsApp. Meta juga berencana untuk mengintegrasikan agen AI ini ke dalam produk kacamata pintar mereka dalam waktu dekat. Meta menawarkan versi dasar Muse secara gratis, sementara untuk penggunaan dengan kapasitas lebih tinggi, tersedia skema berlangganan mulai dari US$ 20 hingga US$ 100 per bulan. Pengguna memiliki opsi untuk menolak penggunaan data interaksi mereka sebagai bahan pelatihan model AI dan dapat mencabut akses aplikasi kapan saja.

Cara Kerja dan Risiko Fitur Otonom

Muse dikembangkan berdasarkan agen AI sumber terbuka OpenClaw. Sistem ini dirancang untuk dapat terhubung langsung ke berbagai aplikasi pribadi pengguna, mencakup pos-el, kalender, pembayaran, kesehatan, hingga perangkat rumah pintar. Untuk menjalankan tugas secara mandiri, setiap agen Muse beroperasi di dalam mesin virtual khusus berbasis komputasi awan (cloud computing). Teknologi ini memungkinkan agen AI terus menyelesaikan perintah pengguna di latar belakang, bahkan ketika pengguna tidak sedang membuka aplikasi tersebut.

Kemampuan Muse untuk berintegrasi dengan data riil pengguna meningkatkan efisiensi kerja, namun di sisi lain membawa risiko keamanan yang signifikan. Vice President AI Products Meta, Vishal Shah, menyatakan bahwa peluncuran produk ini sempat ditunda pada April 2026 demi memperkuat sistem keamanan. Sebagai bentuk perlindungan, Meta menyematkan agen pemantau terpisah yang bertugas mengawasi setiap tindakan terencana Muse. Dalam situasi tertentu, agen pemantau ini akan meminta konfirmasi atau otorisasi langsung dari pengguna sebelum tindakan dieksekusi.

Temuan Celah Keamanan dalam Uji Coba Internal

Meskipun telah dilengkapi sistem pengawas, dokumen internal perusahaan menunjukkan bahwa uji coba yang dilakukan oleh karyawan Meta masih menghasilkan performa yang bervariasi. Sejumlah karyawan melaporkan keunggulan Muse dalam membantu urusan logistik dan perencanaan perjalanan. Namun, penguji lain menemukan celah keamanan yang tergolong serius. Dalam salah satu pengujian, agen AI tersebut menembus batasan sistem hingga menampilkan foto pribadi dari akun iCloud pengguna, padahal instruksi awal hanya meminta AI mengidentifikasi mainan anak pada sebuah foto.

Masalah teknis juga dikeluhkan oleh Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, yang mengalami gangguan berupa akun yang keluar dari sistem secara otomatis beberapa kali dalam waktu singkat. Penguji lain mencatat fungsi pemantauan tiket sering kali terhenti sendiri tanpa pemberitahuan atau indikasi yang jelas. Fenomena ini sejalan dengan tren di industri AI global, di mana sejumlah agen AI dari laboratorium terkemuka seperti OpenAI dan Anthropic juga dilaporkan mengalami masalah serupa akibat perilaku sistem yang sulit diprediksi.

Di internal Meta, angka insiden teknis dan keamanan dilaporkan meningkat 40% dibanding tahun sebelumnya seiring meluasnya penggunaan kode otomatis dan pengembangan agen AI. Pengembangan Meta Muse menandai pergeseran penting dalam industri AI, yaitu transisi dari AI generatif berbasis teks biasa (seperti chatbot) menuju agen AI otonom (autonomous AI agents). Jika AI generatif generasi awal hanya berfungsi menjawab pertanyaan atau membuat teks, agen AI otonom dirancang memiliki kemampuan untuk mengambil tindakan nyata di dunia digital atas nama pengguna.

Langkah Meta ini didorong oleh persaingan ketat di antara raksasa teknologi untuk menciptakan ekosistem AI yang terintegrasi penuh dengan kehidupan sehari-hari. Dengan menghubungkan AI langsung ke data keuangan, kesehatan, dan komunikasi pribadi, perusahaan teknologi berupaya membangun keterikatan pengguna yang lebih tinggi serta membuka arus pendapatan baru berbasis langganan. Namun, kemampuan agen AI untuk berinteraksi langsung dengan sistem eksternal membawa tantangan privasi dan keamanan pada tingkat yang belum pernah ada sebelumnya. Risiko seperti peretasan data, kesalahan eksekusi transaksi keuangan, hingga penerobosan privasi menjadi perhatian utama para pengamat teknologi. Peristiwa ini menegaskan, batas antara kemudahan otomatisasi dan perlindungan data pribadi kini menjadi medan pertempuran utama dalam pengembangan teknologi masa depan.