— Serangan militer yang dilancarkan kelompok Houthi dari Yaman menghantam sejumlah wilayah di Arab Saudi bagian selatan pada Selasa (8/9/2026). Insiden tersebut memicu kebakaran pada beberapa fasilitas energi vital serta mengakibatkan sedikitnya 73 warga sipil mengalami luka-luka.

Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi kebakaran terjadi setelah sejumlah infrastruktur energi menjadi sasaran tembak. Guna mengamankan area yang terdampak dan meminimalkan risiko lebih lanjut, otoritas setempat menghentikan sementara sebagian kegiatan operasional di fasilitas tersebut. Tim penanggulangan khusus telah diterjunkan ke lokasi untuk memadamkan api serta mensterilkan kawasan terdampak.

Otoritas keamanan Arab Saudi melaporkan serangan yang meluncur sejak Selasa dini hari waktu setempat itu menyasar pusat kegiatan sipil dan ekonomi di empat kota utama wilayah selatan, yakni Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran.

Juru Bicara Koalisi Militer Pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengecam keras aksi tersebut. Ia menyebutnya sebagai tindakan kriminal serta eskalasi berbahaya yang melanggar kedaulatan negara secara terang-terangan.

“Serangan tidak masuk akal tersebut melukai puluhan warga sipil, termasuk kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak,” ujar al-Maliki. Ia menegaskan, Komando Gabungan Pasukan Koalisi akan mengambil seluruh langkah operasional yang diperlukan guna menetralisir sumber ancaman dan melindungi warga negara.

Dukungan terhadap langkah tegas pemerintah Arab Saudi juga disampaikan oleh militer Yaman. Pihak militer Yaman menyatakan kesiapan penuh untuk berkoordinasi dengan Arab Saudi dalam menumpas sumber kekacauan demi menjaga stabilitas kawasan.

Eskalasi ini terjadi bertepatan dengan kemajuan signifikan yang diraih pasukan pemerintah Yaman di empat front pertempuran utama, yaitu Al-Jawf, Al-Bayda, Taiz, dan Al-Hudaydah. Kemajuan ini menyusul komitmen Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Rashad al-Alimi untuk memulihkan kedaulatan negara secara menyeluruh.

Rangkaian serangan terbaru ini mengancam keberlanjutan periode relatif tenang yang telah berlangsung sejak kesepakatan gencatan senjata pada April 2022. Insiden ini juga memicu kekhawatiran akan berulangnya konflik berskala penuh. Yaman telah terjerat perang saudara selama hampir 12 tahun sejak kelompok Houthi yang didukung Iran merebut ibu kota Sanaa pada 2014.

Dinamika konflik kian meluas setelah Houthi meningkatkan gempuran terhadap kapal-kapal komersial di jalur pelayaran strategis Laut Merah. Kondisi tersebut mendorong Arab Saudi, sebagai penyokong utama pemerintah resmi Yaman, memprakarsai pembentukan aliansi maritim internasional guna mengamankan jalur perdagangan dunia dan meredam eskalasi di kawasan Teluk.