— Harga emas dunia diprediksi menghadapi penurunan mingguan ketiga berturut-turut, meskipun sempat menunjukkan penguatan pada Jumat (11/9/2026). Pasar komoditas emas kembali dibayangi oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan keluar pada hari yang sama.

Pada perdagangan Jumat, harga emas tercatat naik 0,86% menjadi US$ 4.353,71 per troi ons. Namun, secara akumulatif sepanjang pekan ini, harga emas masih mengalami penurunan lebih dari 1%. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember bahkan terpantau melemah 0,29% ke level US$ 4.394,82 per troi ons.

Tekanan terhadap harga emas menguat setelah data Producer Price Index (PPI) AS menunjukkan adanya kenaikan indeks harga produsen sebesar 0,4% pada Agustus. Angka ini melampaui kenaikan 0,1% pada Juli yang telah direvisi naik. Data PPI tersebut mendorong pelaku pasar untuk meningkatkan taruhan terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed dalam pertemuan kebijakan moneter pekan depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga ini secara inheren menekan harga emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil.

Para pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada laporan Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat pukul 12.30 GMT atau 19.30 WIB. Data inflasi konsumen ini dianggap sebagai salah satu indikator krusial yang akan sangat memengaruhi arah ekspektasi kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Wael Makarem, financial markets strategist lead Exness, menyatakan bahwa data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan pasar dapat semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. “Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan akan memperkuat alasan untuk beberapa kali kenaikan suku bunga, yang berpotensi mendorong yield Treasury dan dolar lebih tinggi serta memberikan tekanan tambahan pada emas,” ujar Makarem.

Peningkatan Ekspektasi Inflasi dan Dampaknya

Makarem menambahkan bahwa ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah juga berpotensi memberikan tekanan terhadap emas melalui peningkatan ekspektasi inflasi. Situasi ini menciptakan paradoks bagi emas, yang secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Ketika inflasi mendorong kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi, daya tarik emas dapat berkurang karena sifatnya yang tidak menawarkan imbal hasil tetap.

Di pasar energi, harga minyak mentah kembali menunjukkan tren kenaikan. Kedua harga acuan minyak dunia berada di jalur yang tepat untuk mengakhiri pekan ini di atas US$ 100 per barel, sebuah level yang terakhir kali terlihat pada pertengahan Mei. Lonjakan harga minyak ini menjadi perhatian serius karena dapat menambah tekanan inflasi sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS perlu dipertahankan pada level yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Dari sisi geopolitik, laporan terbaru menyebutkan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran telah berhasil menguasai kota pelabuhan Mocha di Yaman dan dilaporkan bergerak menyusuri pesisir Laut Merah menuju sejumlah pulau strategis. Perkembangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa perang Iran diperkirakan akan segera berakhir setelah pemilihan paruh waktu.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot dilaporkan turun 0,1% menjadi US$ 63,49 per troi ons, dan secara akumulatif telah melemah sekitar 4% sepanjang pekan ini. Sementara itu, harga platinum tercatat naik 0,3% menjadi US$ 1.782,76 per troi ons, dan palladium menguat 0,5% ke level US$ 1.288 per troi ons. Namun, kedua logam mulia tersebut juga diperkirakan akan mengakhiri pekan dengan catatan penurunan.