Jurnal Indonesia — NEW YORK – Masyarakat Amerika Serikat (AS) memperingati 25 tahun tragedi 11 September 2001 (9/11) dengan penuh khidmat. Peringatan seperempat abad ini menjadi momentum nasional untuk mengenang hampir 3.000 jiwa yang gugur, merenungkan dampak panjang peristiwa tersebut, serta memberikan penghormatan atas aksi heroik para petugas penyelamat.
Rangkaian acara peringatan diisi dengan peletakan karangan bunga, pengibaran bendera setengah tiang, hening cipta, doa bersama, hingga pembacaan nama-nama korban. Menurut survei terbaru yang dikutip Associated Press pada Jumat (11/9/2026), sekitar separuh dari populasi dewasa di AS menilai peristiwa 9/11 sebagai momen paling bersejarah dalam hidup mereka.
Warisan Pengabdian dan Momen Penghormatan
Di Brooklyn, Petugas Kepolisian Casey Kloepfer memperingati hari bersejarah ini dengan mendatangi kantor polisi tempat almarhum ayahnya, Ronald Kloepfer, terakhir bertugas sebelum gugur di area World Trade Center (WTC). Casey, yang masih berusia empat tahun saat tragedi terjadi, baru saja dilantik menjadi anggota kepolisian New York pada Juni 2026. Ia kini mengenakan nomor lencana milik sang ayah sebagai bentuk penghormatan atas warisan pengabdian tersebut.
Jajaran pejabat tinggi AS turut menghadiri serangkaian upacara peringatan. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menghadiri upacara di Pentagon, sementara Wakil Presiden JD Vance menghadiri peringatan di National Sept. 11 Memorial di New York.
Untuk pertama kalinya dalam upacara tahunan di Ground Zero, panitia menambahkan sesi hening cipta khusus untuk menghormati para petugas dan warga yang meninggal dunia akibat paparan debu beracun pasca-runtuhnya menara kembar. Ribuan orang dilaporkan mengidap kanker dan penyakit kronis dalam dekade setelah kejadian tersebut.
Peringatan kali ini juga diwarnai dengan gerakan bakti sosial nasional. Di Times Square, puluhan papan iklan digital menghentikan tayangan komersial secara serentak pada pukul 09.11 pagi untuk menampilkan waktu sebagai bentuk perenungan bersama.
Kronologi dan Dampak Global
Tragedi 11 September 2001 bermula ketika kelompok ekstremis Al-Qaeda membajak empat pesawat komersial di AS. Dua pesawat ditabrakkan ke Menara Kembar WTC di New York, satu pesawat menghantam markas besar militer Pentagon di Virginia, dan pesawat keempat jatuh di area lapangan Shanksville, Pennsylvania, setelah para penumpang melakukan perlawanan di dalam kokpit.
Serangan teror terbesar dalam sejarah modern tersebut menewaskan 2.977 korban jiwa dan mengubah lanskap keamanan global secara permanen. Pasca-kejadian, pemerintah AS membentuk Departemen Keamanan Dalam Negeri, memperketat regulasi penerbangan dan intelijen dunia, serta melancarkan operasi militer global di Irak dan Afganistan. Peristiwa ini terus menjadi titik balik penting yang memengaruhi kebijakan politik, hukum, dan keamanan internasional hingga saat ini.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.