Jurnal Indonesia — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan tidak memiliki penyesalan atas keputusan melancarkan aksi militer terhadap Iran. Trump menyatakan akan mengambil keputusan serupa jika dihadapkan pada situasi yang sama, meskipun konflik tersebut memicu tekanan politik bagi Partai Republik menjelang pemilihan umum sela pada November 2026.
Dalam wawancara di program Fox News yang dikutip pada Jumat (11/9/2026), Trump menampik kekhawatiran perang ini akan merugikan elektoral partainya. Ia menegaskan tidak mengenali kata penyesalan dan akan bertindak persis sama jika diberi kesempatan kedua.
Trump juga membantah anggapan basis pendukungnya merasa demotivasi atau frustrasi akibat perang yang terus berlanjut. Menurutnya, para pendukung justru bangga atas langkah tegas pemerintah dalam mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Selama ini, potensi kemampuan nuklir Iran menjadi alasan utama AS melancarkan kampanye militer. Namun, pemerintah Iran konsisten membantah tuduhan tersebut dan menegaskan program pengayaan uranium mereka murni untuk tujuan damai.
Lebih lanjut, Trump memprediksi konflik bersenjata tersebut akan berakhir tepat setelah pemilu sela usai. Ia optimistis Partai Republik memiliki peluang besar untuk mempertahankan kendali di Kongres. Sebelumnya, Trump juga menuding pemerintah di Teheran berupaya mencampuri proses pemilu sela di AS.
Pernyataan Trump tersebut mengemuka di tengah meningkatnya dampak ekonomi akibat konflik di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak mentah dan bahan bakar minyak telah menjadi beban politik yang signifikan bagi Partai Republik menjelang pemungutan suara.
Gelombang Kritik dan Peringatan Internal
Klaim optimistis Trump langsung menuai kritik tajam dari kubu oposisi. Senator dari Partai Demokrat, Ed Markey, secara terbuka menuduh presiden AS telah membohongi publik terkait durasi perang.
Melalui unggahan di platform X, Markey menegaskan janji mengakhiri perang usai pemilu sela tidak dapat dipercaya. Markey menyatakan penasihat di lingkaran internal Gedung Putih sendiri menyadari potensi perang yang berlangsung jauh lebih lama. Ia mendesak Kongres untuk segera mengambil tindakan memotong anggaran pendanaan perang agar konflik tidak terseret hingga beberapa tahun ke depan.
Kritik Markey sejalan dengan laporan internal Gedung Putih. Berdasarkan laporan pers, sejumlah penasihat senior termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio secara tertutup telah memperingatkan Trump bahwa Iran dapat terus memberikan perlawanan. Para penasihat menilai konflik ini berpotensi terseret hingga masa jabatannya berakhir pada awal 2029, sebuah penilaian yang bertolak belakang dengan klaim publik sang presiden.
Eskalasi militer antara AS dan Iran menjadi salah satu krisis geopolitik paling krusial yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global. Kenaikan harga energi internasional akibat ketegangan di jalur pelayaran vital kawasan Timur Tengah telah memicu inflasi dan kekhawatiran publik di dalam negeri AS. Di sisi lain, kontroversi mengenai legalitas dan efektivitas serangan militer terus membayangi pemerintahan AS. Dengan perbedaan pandangan yang tajam antara perhitungan politik Gedung Putih dan analisis intelijen internal, penanganan konflik Iran menjadi isu sentral yang menentukan peta kekuatan politik pada pemilu sela mendatang.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.