Jurnal Indonesia — JAKARTA – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi sorotan investor asing. Pada pekan kedua September 2026, tepatnya 7-9 September, saham emiten bank pelat merah ini mencatatkan *net buy* investor asing sebesar Rp 246 miliar.
Tren positif ini melanjutkan performa pekan sebelumnya, 31 Agustus-4 September 2026, di mana saham berkode BBRI membukukan *net buy* asing senilai Rp 1,43 triliun. Dalam sebulan terakhir, saham BBRI telah melompat 9,27% ke level Rp 3.420 per penutupan 9 September 2026, dengan total *net buy* asing mencapai Rp 2,26 triliun.
Di sisi lain, pemerintah sedang menyiapkan skema pembukaan rekening gratis bagi masyarakat yang belum memiliki rekening bank. Rencana ini melibatkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dan Bank Syariah Indonesia (BSI), dengan potensi pengisian saldo awal sekitar Rp 50.000 hingga Rp 80.000.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kebijakan ini bertujuan untuk memastikan penyaluran bantuan sosial (bansos) dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran. “Setiap bantuan betul-betul cepat dan tepat sasaran. Itu rencana Bapak Presiden (Prabowo Subianto),” ujar Purbaya kepada awak media di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Skema yang dibahas akan mengintegrasikan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Tujuannya adalah untuk mendapatkan data yang lebih menyeluruh mengenai masyarakat yang belum memiliki rekening. “Itu akan pakai gabungan data Dukcapil, maupun data di BI, dan LPS. Nanti akan dicek setiap orang yang umurnya di atas 18 tahun akan dibukakan rekening bagi yang belum punya rekening,” tutur Purbaya.
Dengan skema ini, setiap warga berusia di atas 18 tahun yang belum memiliki rekening berpotensi dibukakan rekening secara otomatis. “Setiap orang yang umurnya di atas 18 tahun akan dibukakan rekening bagi yang belum punya rekening,” terang Purbaya.
Selain pembukaan rekening, pemerintah juga membahas pemberian saldo awal sekitar Rp 50.000 hingga Rp 80.000. Ada pula kemungkinan pembukaan rekening dilakukan secara otomatis saat seseorang membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP). “Pertama mungkin dikasih (saldo) Rp 50.000 sampai Rp 80.000 itu yang pertama. Dalam diskusi ya ada kemungkinan juga nanti yang setiap orang bikin KTP langsung otomatis dibuatkan itu rekeningnya,” tutur Purbaya.
Purbaya menegaskan bahwa rekening tersebut akan diberikan secara gratis dan masyarakat berpotensi mendapatkan saldo awal. “Kan dikasih gratis. Dikasih uang lagi,” katanya.
Mengenai beban biaya administrasi bagi bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Purbaya menyatakan hal tersebut masih dalam pembahasan. Bank Himbara disebut telah menyatakan kesiapannya untuk mengikuti skema tersebut, termasuk ketentuan saldo minimum. Namun, Purbaya menekankan bahwa rencana penyaluran bansos melalui BRI dan BSI ini belum menjadi keputusan final dan masih dalam tahap awal pembahasan.
Di sisi lain, BRI diproyeksikan akan menormalkan rasio pembayaran dividen (*dividend payout ratio*) menjadi sekitar 70% untuk tahun buku 2026, turun dari 92% pada 2025. “Dalam jangka panjang, rasio pembayaran dividen BRI diperkirakan berada pada kisaran 50%-60%,” tulis analis MNC Sekuritas, Victoria Venny.
Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menambahkan bahwa BBRI mulai menggeser prioritas penggunaan laba dari pembagian dividen tinggi ke penguatan modal untuk mendukung pertumbuhan. Rasio pembayaran dividen BBRI diindikasikan akan turun secara bertahap menuju 60% dari 92% pada tahun buku 2025.
Perubahan ini perlu dilihat bersamaan dengan rencana BBRI untuk kembali mendorong pertumbuhan kredit mikro. Strategi tersebut berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi perseroan untuk menahan laba dan mendanai ekspansi dari modal internal. “Bagi investor yang mengandalkan BBRI sebagai saham dengan imbal hasil dividen tinggi, perubahan tersebut dapat mengurangi pendapatan pasif dalam jangka pendek. Namun, strategi itu ditujukan untuk memberikan kapasitas modal yang lebih besar bagi ekspansi bisnis,” ujar Jason.
Victoria menilai prospek laba BBRI akan tetap ditopang oleh pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (*pre-provision operating profit*/PPOP), peningkatan efisiensi, serta bantalan modal yang kuat. “Faktor tersebut dapat membantu menjaga ketahanan laba BRI, meski *net interest margin* (NIM) masih menghadapi tekanan jangka pendek,” jelas Victoria.
Pada kuartal II-2026, laba bersih setelah pajak (*net profit after tax*/NPAT) BBRI mencapai Rp 15,4 triliun, turun 0,8% secara kuartalan (*quarter on quarter*/qoq), tetapi naik 22% secara tahunan (*year on year*/yoy). Secara kumulatif, NPAT BBRI pada semester I-2026 mencapai Rp 30,9 triliun, tumbuh 17,5% yoy. Realisasi ini setara dengan 52% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 53% dari estimasi konsensus tahun 2026.
PPOP naik 12,7% yoy, sedangkan pendapatan bunga bersih (*net interest income*/NII) meningkat 9,9% menjadi Rp 80,5 triliun. NIM turun 10 basis poin menjadi 7,7%, namun masih dalam panduan 7,4%-7,8%. Total kredit tumbuh 16,2% yoy dan 5,3% qoq menjadi Rp 1.645,5 triliun, melampaui panduan awal 7%-9%. Pertumbuhan terutama ditopang segmen korporasi dan komersial.
Kualitas aset juga membaik. Rasio kredit bermasalah bruto (*gross non-performing loan*/NPL) tercatat 2,9%, sementara kredit berisiko (*loan at risk*/LAR) turun menjadi 9,1%.
MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi *buy* saham BBRI dengan target harga Rp 4.050. Target harga ini mencerminkan *price to book value* (PBV) sebesar 1,9 kali untuk estimasi 2026 dan 1,8 kali untuk proyeksi 2027. MNC Sekuritas menilai pertumbuhan PPOP, efisiensi, dan modal yang kuat menjadi penopang utama ketahanan laba BBRI. Namun, risiko terhadap proyeksi tetap datang dari pertumbuhan kredit yang lebih lambat, kondisi ekonomi makro yang melemah, serta persaingan yang semakin ketat di segmen *wholesale*.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.