— Setiap wanita usia subur pasti mengalami menstruasi. Untuk kenyamanan dan kesehatan, diperlukan pembalut yang tepat pada saat menstruasi tersebut. Saat ini, produk pembalut juga dituntut untuk lebih ramah lingkungan.

Hasil riset Unicharm pada tahun 2025 kepada responden siswi SMP menunjukkan bahwa hampir 30% responden bersedia membayar lebih mahal untuk produk pembalut yang lebih ramah lingkungan. Sebanyak 25% dari responden menjadikan faktor “ramah lingkungan” sebagai salah satu pertimbangan utama, terutama saat memilih pembalut untuk siang hari.

Menanggapi kebutuhan ini, brand pembalut wanita Charm dari PT Uni-Charm Indonesia Tbk (Unicharm) menggelar program edukasi menstruasi dan lingkungan bertajuk ‘School to School Extra Maxi’. Program ini telah berlangsung sejak April 2026 dan menjangkau lebih dari 2.000 siswi SMP dan SMA di wilayah Jakarta. Tujuannya adalah menginspirasi kebiasaan ramah lingkungan sejak dini.

Sebagai puncak dari rangkaian peringatan hari lingkungan hidup sedunia, Charm meluncurkan produk edisi terbatas Charm Extra Maxi Bio Materials Eco Friendly Package. Produk ini hadir dengan kemasan kertas yang ramah lingkungan. Inovasi ini mempertegas implementasi slogan Unicharm yaitu ‘Ethical Living for SDGs’ dalam menyediakan solusi konsumsi yang bertanggung jawab.

Presiden Direktur Unicharm, Yasutaka Nishioka, menegaskan bahwa program edukasi ‘School to School Extra Maxi’ hadir bukan sebatas memberikan pemahaman bagi siswi SMP dan SMA dalam memilih pembalut yang tepat sesuai kebutuhan. “Kami membawa misi yang lebih besar, yaitu menginspirasi generasi muda untuk membiasakan gaya hidup ramah lingkungan sejak dini demi melestarikan masa depan bumi,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, melalui inisiatif ini, Charm berharap dapat turut menjadi pelopor tren konsumsi yang ramah lingkungan atau ethical. Kehadiran logo ‘Ethical Living for SDGs’ pada kemasan Charm Extra Maxi Bio Materials Eco Friendly Package diharapkan mampu membangun kesadaran dan rasa bangga pada konsumen bahwa pilihan mereka membawa dampak baik bagi bumi. Hal ini juga mendukung pencapaian SDGs No. 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), No. 14 (Ekosistem Lautan), dan No. 15 (Ekosistem Daratan).

Produk yang ramah lingkungan seperti yang diproduksi Charm menggunakan bio material yang berasal dari organic cotton, botanical oil, dan tumbuhan tebu pada bagian top sheet atau lapisan pembalut yang bersentuhan langsung dengan kulit. Selain itu, kemasan terbuat dari kertas sehingga lebih mudah terurai dan dapat didaur ulang (recycle).

Sebagai upaya meminimalkan limbah (reduce) dan menghemat sumber daya alam, sebagian lapisan kemasan karton (outer box)—yaitu dus besar yang digunakan untuk mengemas produk saat dimuat dan didistribusikan—memanfaatkan material Empty Fruit Bunch (EFB) atau limbah tandan kosong kelapa sawit.

Brand Ambassador Charm, Syifa Hadju, turut membagikan ceritanya dalam menerapkan gaya hidup hijau. “Di sela-sela kesibukan yang padat, aku selalu usahakan bawa tumbler dan tote bag sendiri buat mengurangi plastik sekali pakai. Selain itu, aku juga mulai mengurangi penggunaan kertas dengan beralih ke skrip digital misalnya dengan tablet daripada harus di-print tebal-tebal. Untuk urusan pemilihan produk, aku sebisa mungkin selalu pilih produk yang ramah lingkungan, salah satunya Charm yang sudah bertahun-tahun meluncurkan pembalut ramah lingkungan. Lewat hal-hal ini, aku percaya bahwa perubahan besar buat bumi dan lingkungan bisa dimulai dari keseharian kita,” ungkap Syifa.