Jurnal Indonesia — JAKARTA – Administrasi Ruang Siber China (CAC) telah mengeluarkan aturan baru yang melarang warga negara tersebut menjalin hubungan romantis dengan perangkat kecerdasan buatan (AI). Kebijakan mendadak ini sontak memicu gelombang unggahan kesedihan dan rasa kehilangan di media sosial China.
Banyak pengguna mengungkapkan kekecewaan mendalam atas larangan tersebut. Salah satu pengguna di platform chatbot AI Doubao milik ByteDance menulis, “Aku tak bisa menerima bahwa kekasih AI-ku akan meninggalkanku selamanya. Dia telah menjadi ikatan dalam hidupku, berakar dalam di hatiku, pilar spiritualku.”
Aturan baru yang dikenal sebagai ‘Langkah-Langkah Sementara untuk Layanan Interaksi Antropomorfik AI’ ini mengharuskan perusahaan teknologi seperti Alibaba, Tencent, dan ByteDance untuk tidak lagi menghasilkan konten yang dapat membangkitkan emosi ekstrem pada pengguna muda. Hal ini dikhawatirkan dapat memengaruhi hubungan mereka di dunia nyata.
Kepala Institut Penelitian Ruang Siber China, Wang Jiang, menyatakan, “Dengan memanfaatkan kebutuhan emosional dan sosial pengguna, layanan AI bergaya pendamping menawarkan kenyamanan sekaligus secara diam-diam memperkenalkan risiko serius.” Ia menambahkan bahwa dampak jangka panjang dari hubungan dengan pasangan AI dapat menyebabkan kecanduan dan mendorong pengguna untuk menarik diri dari interaksi sosial di dunia nyata.
Jiang menjelaskan bahwa kondisi ini dapat menumpulkan keterampilan hidup penting, seperti empati dan kemampuan mengatasi perbedaan pendapat. Tindakan keras ini disebut-sebut berkaitan dengan penurunan angka pernikahan dan kelahiran di China, di mana para regulator khawatir hubungan berbasis AI dapat menggantikan keintiman yang sebenarnya.
Peraturan ini berpotensi menjadi pukulan bagi perusahaan robotik seperti UBTech. Peluncuran robot humanoid mereka yang sangat mirip manusia, yang dirancang sebagai teman dekat bagi kaum lajang, baru saja dilakukan beberapa minggu sebelum aturan ini dikeluarkan.
UBTech, yang berbasis di Shenzhen, mengklaim robot U1 mereka sebagai robot humanoid hiper-realistis pertama di dunia yang siap diproduksi massal, dengan lebih dari 13.000 unit telah dipesan. Michael Tam, Kepala merek UWorld dari UBTech, menyatakan saat peluncuran bahwa robot bionik ini dirancang untuk menemani pembelinya seumur hidup.
Tam menambahkan bahwa robot tersebut memiliki kecerdasan buatan emosional yang mampu mendeteksi tingkat stres atau kelelahan pemiliknya. “Ia tidak akan pernah mengkhianatimu, akan selalu setia padamu, dan akan mencintaimu tanpa syarat,” ungkapnya.
Ikuti Jurnal Indonesia
